SIGLI – Direktur Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) RSU Chik Di Tiro Sigli, Kabupaten Pidie, drg. Muhammad Ridha Faisal, menjelaskan, meninggalnya pasien ibu dan anak di ruang persalinan karena serangan jantung, bukan sebab kelalaian petugas. (Baca: Diduga Disepelekan Dokter, Ibu dan Janin Meninggal Dunia di RS Chik Ditiro)
Penyataan itu diungkapkan Direktur dalam koferensi pers yang digelar di ruang rapat dokter RSU Sigli, sekira pukul 11.00 WIB hari ini, Rabu, 18 Mei 2016.
Penanganannya sudah kita lakukan maksimal terhadap pasien, namun, secara tiba- tiba, pasien atas nama Ummi Salamah mengalami serangan jantung, dan akhirnya meninggal dunia, terangnya kepada sejumlah insan pers.
Untuk menjelaskan lebih rinci tentang kronologis, Faisal juga menghadirkan dokter spesialis kebidanan yang menangani korban, dr. Irfan, Sp.OG serta dokter Anestesi Ardi serta Wadir Irwansyah. Pihaknya, lanjut Faisal ada catatan dari sejak masuk pasien hingga dirawat dan meninggal dunia. Dia meminta kepada dokter Irfan menjelaskan kronologis kasus yang menyebabkan meninggal dunia pasien.
Dr. Irfan mengatakan, pasien atas nama Ummi Salamah masuk IGD pada, Minggu, 15 Mei 2016, pukul 18.30 WIB dan langsung ditangani dokter umum. Dari dokter umum di IGD dia langsung diberitahukan bahwa ada pasien hamil masuk. Begitu diberitahu, saya langsung tangani malam itu juga dengan membawa ke ruang pesalinan, kata Irfan.
Saat masuk, kondisi pasien normal tidak ada masalah termasuk tidak mengalami penyakit lain seperti jantung. Bahkan pagi harinya, Senin, 16 Mei, dirinya kembali masuk memeriksa pasien, kondisinya masih normal. Tidak benar, jika kita dibilang tak tangani pasien. Karena saya sendiri yang menangani pasien termasuk berbicara dengan suami korban, kata Irfan.
Ia juga menjelaskan jika pihaknya tidak melakukan operasi pada pasien karena kondisinya normal, posisi kandungan pun normal dan bisa melahirkan secara normal, kita lakukan USG, hingga paginya, kondisi ibu dan bayi denyut jantung masih normal, sehingga tidak perlu dilakukan operasi, jelas dokter yang mengaku tidak ada alasan untuk operasi jika kondisi normal, apalagi pada pukul 10.00 WIB, pintu lahir sudah mulai terbuka.
Sekira pukul 12.30 WIB dia melakukan cek ulang, pompa jantung sudah mulai melemah, itu sebagai pertanda kebiasaan mau melahirkan. Pasien tetap diinfus untuk menambah tenaga. Sekira pukul 13.00 WIB, dirinya menerima laporan dari petugas jaga, bahwa pasien mulai mengeluh. Dirinya, lanjut Irfan langsung menghubungi dokter Ardi, sepesialis Anestesi memberitahukan jika pasien bermasalah.
Sementara, dr Ardi, mengatakan, begitu menerima laporan, dia langsung melakukan penanganan. Dari riwayatnya, pasien memang tidak ada masalah dengan penyakit lain. Namun dari pihak keluarga diketahui, korban sering pingsan sebelumnya.
Dokter menjelaskan, upaya untuk menyelamatkan ibu dan bayinya terus dilakukan oleh tenaga medis namun usaha tersebut tidak berhasil. Pasien dan bayinya meninggal di ruang persalinan.[](ihn)

