LHOKSEUMAWE – Yayasan Perduli Permata Atjeh (YPAP) selama ini eksis mendampingi penderita HIV/AIDS dari berbagai kalangan, termasuk terhadap lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) di Aceh. Lembaga itu pertama kali menemukan kasus HIV/AIDS yang diderita oleh LGBT pada tahun 2014.

“Kita pernah menemukan kasus HIV/AIDS yang diderita oleh LGBT tahun 2014 lalu, lima kasus di empat kabupaten/kota, yaitu  Bireuen,  Lhokseumawe,   Aceh Utaran dan Bener Meriah. Mereka juga ada yang menggunakan narkoba, ada yang masih menjalani hukuman  penjara, ada yang sudah bebas,” kata Chaidir,  Direktur YPAP, dalam siaran persnya kepada portalsatu.com/, Jumat, 2 Februari 2018.

Chaidir menjelaskan, pihaknya sudah melakukan upaya  untuk memutus mata rantai penularan penyakit berbahaya itu. Di antaranya, pemeriksaan viral load, pendampingan pengobatan IMS (infeksi menular seksual) dan pendampingan ARV (obat HIV).

Menurut Chaidir, dalam pelaksanaannya, YPAP menggandeng Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) provinsi dan kabupaten/kota, Dinas Kesehatan, dan rumah sakit layanan VCT/CST dan Puskesmas VCT. VCT adalah metoda afekti deteksi dan pencegahan untuk HIV/AIDS.

Selain itu, kata Chaidir, pihaknya rutin mensosialisasikan bahaya HIV/AIDS dan narkoba terhadap LGBT, agar mengerti dan paham  bahwa melakukan orientasi seksual menyimpang adalah salah dan sangat berbahaya bagi kesehatan mereka sendiri.

Menurut Chaidir, homoseksual adalah salah satu dari delapan jenis kelainan seks menyimpang, dapat menular dengan beberapa sebab. Di antaranya, akibat pengaruh lingkungan, rasa trauma atau sensasi dari tayangan pornografi. Namun, kata dia, ada juga sifat kemayu (lemah lembut) dari lelaki akibat faktor hormon wanitanya lebih dominan dari hormon lelaki.

“Kehadiran LGBT sangat memengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Namun kehadiran mereka juga tidak lepas dari adanya konsumen (pemakai) atau pasangan untuk melakukan orientasi seksual, dan pasangan mereka bisa dari kalangan manapun,” ujar Chaidir.

Chaidir menyebutkan, di Aceh, perilaku orientasi homoseksual seperti gay banyak terjadi  di kalangan remaja dan jumlahnya lebih besar dari komunitas waria. Menurut Chaidir, keberadaan dan aktivitas mereka sulit dideteksi, bahkan tidak terlihat sama sekali.

“Waria bisa terlihat dari cara mereka berpakaian, memakai make-up dan hal-hal cenderung kewanita-wanitaan. Namun gay dan lesbian sangat sulit kita kenali, karena mereka berperilaku sehari-hari layaknya pria dan wanita normal, mereka sangat silent (tersembunyi),” kata Chaidir.

Chaidir menyebutkan, sejak tahun 2010 sampai 2018, yayasan yang berkantor pusat di Lhokseumawe itu sudah membina 30 persen komunitas LGBT di Aceh. Namun, hanya sebagian kecil yang berhasil dibina dan sudah menjalani kehidupan normal.

“Hanya 10 persen dari jumlah LGBT yang kita bina pulih dan berhasil menjalani kehidupan normal. Kendalanya, harus ada lapangan kerja yang berkesimbungan terhadap mereka yang berperilaku seks menyimpang tersebut. Kalau tidak paling bertahan tiga tahun, setelah itu mereka  kembali ke lingkungan semua,” ujar Chaidir.

Ia berharap ada upaya serius dari pemerintah daerah yang lebih proaktif dengan melibatkan komponen tokoh agama, TNI/Polri, LSM, media massa, organisasi masyarakat desa termasuk organisasi kesiswaan untuk membangun satu sistem yang kuat guna menangkal perilaku seks menyimpang itu, HIV/AIDS dan peredaran narkoba.

“Seharusnya sudah ada kurikulum narkoba dan HIV/AIDS di sekolah sehingga mereka mengerti apa yang terjadi di masa depan, karena dua virus ini sedang membunuh karakter agama dan norma dalam era globalisasi. Jika pemerintah diam, maka akan lahir generasi rusak moral dan agama,” kata Chaidir.

Chaidir mengatakan, di Aceh jumlah kasus HIV terus naik. Tahun 2016 mencapai 499 kasus HIV dan pada 2017 YPAP menemukan banyak penderitanya adalah  kalangan ibu rumah tangga dan anak-anak. Mirisnya lagi, kata dia, di beberapa daerah belum ada layanan HIV/AIDS baik fasilitas dan SDM.

Menurut Chaidir, ada strategi baru yang kini sedang dijalankan, yaitu membentuk Komunitas Warga Peduli AIDS dan Narkoba di dua gampong di Bireuen dan Kota Lhokseumawe. Strategi ini sangat baik untuk memutus mata rantai penularan HIV/AIDS, LGBT dan narkoba di desa-desa.

“Ada satgas dalam komunitas itu yang nantinya akan memberikan informasi dan berkoordinasi terhadap para pihak yang berkompeten dalam pengananan hal itu. Strategi ini harus didukung dan digunakan oleh pemerintah,” pungkas Chaidir.[](rel)