BIREUEN – Guru Dayah Teungku Chik Di Reubee Bambong, Sigli, Teungku Khaidir Sulaiman mengatakan, Islam sangat menekankan umatnya untuk menuntut ilmu, sehingga menempatkan menuntut ilmu pada posisi wajib. Terlebih kini era globalisasi semakin banyak tantangan dan hambatan yang harus dihadapi. Pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan globalisasi.
“Pendidikan dalam perspektif Islam tidak mungkin menisbikan proses globalisasi yang akan mewujudkan masyarakat global ini. Dalam menuju era globalisasi, Indonesia harus melakukan reformasi dalam proses pendidikan. Dengan penekanan menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif dengan menekankan perbaikan berbasis akhlak dan integrasi ilmu serta fleksibel. Sehingga para lulusan dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat global menuju baldatun tayyibatun warabbul ghafur,” ujar Teungku Khaidir Sulaiman, 11 Maret 2017.
Teungku Khaidir Sulaiman menyebutkan untuk itu pendidikan harus dirancang dengan baik yang memungkinkan para peserta didik mengembangkan potensi dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan, kebersamaan, dan tanggung jawab berlandaskan nilai islami.
“Di samping itu, pendidikan harus menghasilkan lulusan yang dapat memahami masyarakatnya dengan segala faktor yang dapat mendukung mencapai sukses ataupun penghalang yang menyebabkan kegagalan dalam kehidupan bermasyarakat,” kata kandidat Master Pendidikan UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini.
Ulama muda kelahiran Bambong ini menambahkan salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah mengembangkan pendidikan yang berwawasan global dan berkarakter akhlakul karimah. “Selain itu, program pendidikan harus diperbaharui, dibangun kembali atau dimoderenisasi sehingga dapat memenuhi harapan dan fungsi yang dipikulkan kepadanya,” ujar alumni Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga ini.
Melihat fenomena dewasa ini, di antara solusi pokok yang dapat ditawarkan bersasarkan penelitian para ahli di antaranya dengan pengembangan wawasan intelektual yang kreatif dan dinamis dalam sinaran dan terintegrasi dengan Islam harus segera dipercepat prosesnya. “Sementara itu solusi pokok lainnya menurut ahli dengan melakukan secularization, yaitu industrialisasi sebuah masyarakat yang berarti diferensiasi fungsional dari struktur sosial dan sistem keagamaannya,” kata Teungku Khaidir.
Berbagai macam tantangan tersebut menuntut para pengelola lembaga pendidikan terutama lembaga pendidikan Islam untuk melakukan nazhar atau perenungan dan penelitian kembali apa yang harus diperbuat dalam mengantisipasi tantangan dan hambatan di dunia pendidikan. “Kita sebagai stakeholder pendidikan harus melakukan nazhar dapat berarti at-taammul wa alfahsh, yakni melakukan perenungan atau menguji dan memeriksanya secara cermat dan mendalam, dan bias berarti taqlib al-bashar wa al-bashirah li idrak al-syai wa ruyatihi, yakni melakukan perubahan pandangan (cara pandang) dan cara penalaran (kerangka pikir) untuk menangkap dan melihat sesuatu,” ujarnya.
Menurut Teungku Khaidir, termasuk di dalamnya adalah berpikir dan berpandangan alternatif serta mengkaji ide-ide dan rencana kerja yang telah dibuat dari berbagai perspektif guna mengantisipasi masa depan yang lebih baik dalam menggapai mardhatillah.[]



