BerandaNewsKata Panglima Laot Tentang Pantai Bantayan

Kata Panglima Laot Tentang Pantai Bantayan

Populer

PANTAI Bantayan di Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, menjadi salah satu objek wisata bahari yang diminati wisatawan lokal, sejak lokasi itu kembali dibuka untuk umum beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, pantai itu ditutup untuk kunjungan wisatawan setelah tsunami meluluhlantakkan kawasan pesisir Seunuddon, termasuk Bantayan tahun 2004 silam.

Bantayan berjarak sekitar 7 Km dari Ibu Kota Kecamatan Seunuddon, atau 12 Km dengan Jalan Banda Aceh-Medan, 60 kilometer di timur Lhokseumawe. Masuk dari Simpang Panteu Breuh, Kecamatan Baktya, Aceh Utara, di bibir jalan nasional, pengunjung dapat melintasi jalan aspal tembus ke Bantayan.

Selain lokasi wisata, Pantai Bantayan juga menjadi tempat berlabuh kapal nelayan. “Karena Kuala Bantayan dangkal, sehingga difungsikan pantai untuk berlabuh boat atau kapal nelayan. Sepanjang garis Pantai Bantayan sampai Kuala Piyadah jadi tempat berlabuh boat,” ujar Panglima Laot Seunuddon, Amir Yusuf, dihubungi portalsatu.com, Selasa, 28 Agustus 2018.

***

Bantayan merupakan nama gampong. Menurut Amir Yusuf, asal-usul nama Bantayan memiliki sejarah yang kelam. “Bersejarah, ketika masa peperangan PKI juga ada di sana. Bahkan sampai masa konflik Aceh pun juga terjadi tragedi yang cukup mengerikan. Karena ada insiden pembantaian kala itu, sehingga dinamakanlah sebuah Desa Bantayan,” ungkap Amir Yusuf.

PKI adalah Partai Komunis Indonesia yang pernah bercokol di Aceh. Namun, keberadaan partai yang dimusuhi Orde Baru (Orba) itu nyaris tidak pernah dibicarakan masyarakat banyak di negeri syariat ini. Sehingga sebagian besar masyarakat termasuk generasi muda saat ini tidak mengetahui tentang sepak terjang PKI di Aceh pada masa silam.

Dikutip dari merdeka.com, PKI eksis di Aceh tahun 1960-an. Namun, cerita tentang PKI tidak seperti kisah konflik lainnya di Aceh. Seperti konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Indonesia yang berakhir damai dengan penandatanganan MoU Helsinki, 15 Agustus 2005.

Bantayan kini menyedot perhatian berbagai kalangan lantaran beberapa hari lalu terjadi peristiwa menggemparkan di kawasan pantai gampong tersebut. Personel Satuan Reserse Kriminal Polres Aceh Utara, Brigadir Faisal, ditikam hingga tewas oleh kelompok kriminal bersenjata, Minggu, 26 Agustus 2018, dinihari. (Baca: Ini Kata Kabid Humas Polda Aceh Tentang Brigadir Faisal Tewas Ditikam di Pantai Bantayan)

Menurut Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol. Misbahul Munauwar, kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang membunuh Brigadir Faisal dikenal dengan nama “Setan Botak Peureulak”. Kelompok perompak laut itu, kata Misbahul, juga mengambil senjata api jenis revolver dan AK-56 yang digunakan Brigadir Faisal saat mengintai KKB di Pantai Bantayan. (Baca: Polisi Buru AK-56 Dibawa Lari KKB ‘Setan Botak Peureulak’ Penikam Brigadir Faisal)

Pantai Bantayan di bibir Selat Malaka diduga rawan dimanfaatkan kelompok kriminal untuk menyelundupkan barang haram dari Malaysia ke Aceh. Menurut Amir Yusuf, jarak tempuh dari Pantai Bantayan ke Malaysia atau sebaliknya diperkirakan menghabiskan waktu antara sembilan sampai 12 jam perjalanan menggunakan kapal nelayan.

***

Saat tsunami tahun 2004, Bantayan mengalami dampak sangat dahsyat. Menurut Amir Yusuf, semua rumah warga gampong itu rata dengan tanah diterjang tsunami. Penduduk Bantayan kemudian menempati rumah yang dibangun NGO asing di gampong tersebut. Masyarakat pesisir itu pun memulai lembaran baru dengan susah payah berusaha bangkit dari keterpurukan ekonomi.

Beberapa tahun terakhir, Pantai Bantayan kembali dibuka untuk kunjungan wisatawan, sehingga mendatangkan pendapatan untuk sebagian warga yang mendirikan warung di lokasi tersebut. Pengunjung memadati pantai itu, terutama Sabtu dan Minggu.

“Banyak kaum perempuan yang sudah janda berjualan di pantai tersebut. Diperkirakan ada 60 sekian orang, otomatis sudah sangat terbantu dari segi ekonomi. Artinya, cukuplah untuk kebutuhan sehari-hari. Mudah-mudahan pantai ini selalu aktif seperti biasanya,” kata Amir Yusuf.

Amir Yusuf menyebutkan, pengelolaan pantai tersebut selama ini di bawah pembinaan para tokoh masyarakat Bantayan. Saat ini tokoh masyarakat setempat sedang membangun kolam air tawar untuk pengunjung Pantai Bantayan dengan sumber dana swadaya masyarakat.

“Tujuannya ketika warga usai mandi laut maka bisa membersihkan diri dengan air tawar. (Kolam) baru selesai digali, tapi belum dicor semen. Ukuran kolam tersebut diperkirakan 12×20 meter,” ujar Amir Yusuf.

Pantai itu sempat ditutup sementara lantaran terjadi peristiwa pembunuhan terhadap Brigadir Faisal, Minggu kemarin. Kini Pantai Bantayan kembali dibuka untuk umum. “Bagi masyarakat yang ingin berkunjung ke pantai itu sudah bisa. Aktivitas di pantai sudah normal kembali seperti biasanya,” kata Panglima Laot Seunuddon ini.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya