LHOKSEUMAWE – Walikota Lhokseumawe Suaidi Yahya rakyat menilai positif kegiatan Milad GAM walau hanya dengan doa bersama, bukan berarti kegiatan tersebut diibaratkan eks GAM tidak berani menggelar kegiatan peringatan lebih dari sekedar berdoa bersama, seperti upacara di lapangan.

Suaidi berpidato mewakili Panglima atau Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Kuta Pase, Mukhtar Hanafiah atau akrab disapa Ableh Kandang, yang juga ikut hadir dalam acara tersebut. Selain itu, acara doa bersama itu juga bukti kepatuhan eks kombatan di daerah terhadap komando pusat.

“Doa bersama ini, agar kita benar-benar mengenang sejarah konflik yang telah merenggut banyak korban jiwa, mengenang para syuhada yang rela mati demi damai hari ini. Jadi saya nilai ini esensi yang diperintahkan komando agar Milad kali ini cukup digelar dengan doa bersama atau acara yang sederhana,” katanya.

Suaidi  juga meminta generasi penerus Aceh tidak lupa sejarah , sejarah adalah jalan sebuah bangsa meraih kemakmuran, belajar dari sejarah akan membuat sebuah bangsa menjadi kuat. “Orang Aceh adalah pejuang, baca sejarah kemudian renungi. Sejarah tidak boleh dilupakan, kita tidak akan maju bila melupakan sejarah,” tegasnya.

Di akhir pidatonya, Suaidi terkesan menyindir sejumlah pihak yang tidak hadir dalam acara itu, ia membandingkan dirinya yang menduduki jabatan wali kota notabene bagian dari pemerintah RI tetap menyempatkan waktu datang ke Islamic Center.

Usai menyampaikan pidato, Panglima KPA Pase, Mukhtar Hanafiah alias Ableh Kandang bersama Suaidi Yahya menyerahkan santunan kepada anak yatim.[]