BANDA ACEH Seni tradisi mop-mop atau biola Aceh awalnya menjadi alat komunikasi dalam ruang sosial bagi kehidupan bermasyarakat di Aceh. Namun pada masa ini tanpa sengaja berangkat dari perkembangan jaman kesenian tradisi mulai bergeser pungsinya
Doktor bidang Penciptaan Seni Teater lulusan ISI Surakarta, Sulaiman Juned, mengatakan, mop-mop masih bertahan di Aceh, walau terasa sudah mulai langka.
Kesenian tradisi Aceh mop-mop terancam punah, namun kesenian ini perlu kiranya dihidupkan kembali karena seni tradisional Aceh ini kaya akan nilai-nilai agama, adat, moralitas, dan sosial. Seni ini telah berusia lama, namun mulai berkembang pesat di Kabupaten Aceh Utara, Aceh Besar dan Pidie sejak tahun 50-an, katanya.
Sulaiman mengatakan, penamaan terhadap kesenian ini karena penggunaan instrumen biola sebagai intsrumen utamanya.
Di Kabupaten Aceh Utara kesenian ini diberinama mop-mop sedangkan di Aceh Besar dan Kaputen Pidie, biola Aceh ini disebut Genderang Kleng. Biola yang digunakan adalah biola violin. Kesenian ini dimainkan paling banyak 5 (lima) orang pemain, masing-masing satu orang bertindak sebagai violis (syech) yang merangkap vokalis, pemimpin grup sekaligus sebagai sutradara yang menyusun dialog untuk menyanyi. Penabuh gendang, penyanyi, dan dua orang lagi sebagai penari dan pelawak, berperan sebagai Linto Baro dan Dara Baro (Suami Istri atau Marapulai kalau di Minangkabau) yang melakukan gerak tari dan banyolan sesuai irama Biola dan pukulan Rapai. Pertunjukannya membutuhkan panggung hanya 6 X 6 meter, kata dosen tetap di Jurusan Seni Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang dan dosen Luar biasa di kampus lain sekitarnya ini.
Sulaiman mengatakan, ciri khas mop-mop adalah adanya tarian, cerita (dialog), nyanyian lewat berbalas pantun dengan ungkapan-ungkapan lucu, menggelikan, dan penuh humor, serta para pemainnya memakai pakaian yang warnanya kontras.
Mop-Mop (Biola Aceh) komunikasi disampaikan lewat kekuatan humoris, dan secara tidak langsung terselip nilai kritik sosial serta pesan moral melalui pantunnya yang kocak. Kesenian ini sampai sekarang masih mampu berinteraksi dengan masyarakarat, katanya.
Masyarakat Aceh yang menganut sistem feodal, namun dipengaruhi oleh unsur-unsur agama Islam, terjadi interaksi sosial yang memberikan dampak perubahan terhadap budaya. Bentuk perubahan tersebut adanya adaptasi, akulturasi, asimilasi, dan integrasi dengan kesenian ronggeng yang berasal dari Sumatera Timur. Proses adaptasi terjadi ketika terjadi pertandingan kesenian antara Aceh dengan Sumatera Timur di jaman Belanda. Sumatera Timur kesenian yang ditampilkan ronggeng. Aceh sepulang dari pertandingan tersebut, menciptakan kesenian yang hampir mirip ronggeng, diberinama Mop-Mop atau Biola Aceh, (Wawancara dengan Syech Mae Pidie, 20 Januari 2005, di Kabupaten Pidie, Aceh),” kata Sulaiman yang merupakan Ketua Panitia Pendirian Kampus Seni Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Aceh (2012-2013) ini.
Pendiri Komunitas Kuflet ini mengatakan, dalam group yang baru muncul kembali dan dikoordinatori Nyakman Lamjame, tokoh mop-mop tersebut, di antaranya ada Syech Abdul Gani Krueng Mane (sudah almarhum), Syech Maneh, dan Syech Mae (Ismail), serta Syech Ali Basyah.
Menurut mereka, biola sebagai alat musik instrumen kesenian tradisi Aceh yang berasal dari Mesir, walau biola pertama sekali diperkenalkan di Italia tahun 1719. Sama persis seperti alat musik konvensional barat. Perbedaannya terletak pada metode dalam memainkannya, penggesek biola Aceh memainkan progresi melodi pada biola Aceh membentuk harmoni vertikal dengan interval kwint. Teknik memainkannya sangat mirip dengan rabab di Minangkabau, satu nada di tahan sementara nada lainnya bergerak membentuk progresi melodi, kata Sulaiman Juned.[]

