Minggu, Juli 21, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaKearifan Aceh Let...

Kearifan Aceh Let Ta’eut, Corona, dan Ta’eut Ija Brok

Conona atau Novel Coronavirus (COVID-19) merupakan jenis bakteri yang bermutasi (mengubah diri dari induknya), dikabarkan baru muncul pada akhir 2019 di Wuhan, Cina. Lalu, tanpa pernah diduga oleh seorang pun, corona menyebar ke seluruh dunia dengan cepat.

Menurut World Health Organization (WHO), virus corona menyebar melalui tetesan kecil yang keluar dari hidung atau mulut ketika mereka yang terinfeksi virus ini bersin atau batuk. Tetesan itu kemudian mendarat di benda atau permukaan yang disentuh dan orang sehat. Lalu orang sehat ini menyentuh mata, hidung atau mulut mereka.
Orang-orang mungkin mengalami pilek, sakit tenggorokan, batuk, demam, dan untuk kasus yang parah, kesulitan bernapas.

Bagaimana Aceh dulu dan kini menyikapi sebuah wabah sejenis corona?

Corona adalah istilah medis. Di Aceh, kita mengenal istilah ta’eut atau ta’eun. Ta’eun berasal dari bahasa Arab, yaitu “tha’un”, artinya wabah. Ta’eut adalah hal umum terdengar di Aceh. Misalnya, flu burung disebut ta’eut manok.

Ta’eut, bukan barang baru di Aceh. Sejarah-sejarah kita diwarnai oleh ta’eut. Salah satu sejarah pilu, Sultan Aceh Darussalam yang menolak ultimatum perang dari kafir Belanda, yaitu Sultan Mahmudsyah, syahid karena kolera yang dibawa oleh pasukan Belanda yang curang dalam peperangan.Orang Aceh dari dulu mengenal ta’eut. Saking fahamnya orang Aceh dengan ta’eut itu, terlihat dari adanya budaya (tradisi) let peunyaket (mengsusir wabah penyakit), let ta’eut.

Disebabkan adanya informasi tentang akrabnya Aceh dengan ta’eut, saya terkejut ketika wabah itu menjalar ke Malaysia, dan pemerintah Aceh masih menerima turis dari negara tersebut dan negara lainnya. Sementara fasilitas medis di Aceh tidak memadai, jangankan untuk menaggulangi ta’eut, dalam keseharian saja kita kekurangan tempat untuk merawat pasien. 

Mengherankan pula ketika ada sebagian orang Aceh peueleh (menganggap remeh) wabah corona tersebut, misalnya mengejek larangan shalat berjamaah di beberapa wilayah, dengan menghubung-hubungkan itu dengan ibahdat dan qadha dan qadar. Sementara orang itu bukan ahli tauhid dan jelas-jelas bukan dokter. Lebih mengherankan lagi, di tengah wabah mulai mendekat, ada pejabat kita keluar Aceh, bahkan ada yang keluar negeri lagi. Itu tingkah laku yang tidak bertanggung jawab sama sekali.

Mari kita tinjau kembali hadits Nabi Muhammad SAW.

Dalam As-Shahih, Imam Muslim (Radliallaahu ‘anh), menyebutkan tentang wabah tha’un, beliau meriwayatkan dari Abdullah bin Maslamah (Abdurrahman Al-Haritsy) sarat dengan perawinya bahwa Rasul Saw pernah bersabda, yang artinya:

“Wabah Tha’un adalah suatu ayat, tanda kekuasaan Allah Azza Wajall yang sangat menyakitkan, yang ditimpakan kepada orang-orang dari hambaNya. Jika kalian mendengar berita dengan adanya wabah Tha’un, maka jangan sekali-kali memasuki daerahnya, jika tha’un telah terjadi pada suatu daerah dan kalian di sana, maka janganlah kalian keluar darinya.”

Melihat makna hadits tersebut, adalah bijakasana apabila Pemerintah Aceh melarang turis masuk dan melarang orang Aceh keluar sampai wabah menghilang di seluruh dunia, terutama di Asia Tenggara. Namun, pemerintah Acehlah yang berkuasa membuat kebijakan. Rakyat cuma mengikuti apa yang dianjurkan.

Selain itu, ada juga yang pemerintahnya menanggapi dengan benar wabah corona, tetapi rakyat melanggar larangan, seperti di Italia. Rakyat tidak bekerjasama. Akhirnya Italia yang memiliki teknologi medis canggih dan banyak dokter ahli pun keletihan mengurus pasien yang ratusan orang masuk ke hospital setiap hari. Lebih kelelahan lagi, saat mereka harus mengurus banyak jenazah orang yang terkena wabah. Akhirnya sebagian besar jenazah itu terpaksa diangkut dengan truk militer untuk dikremasi. Na’uzubillahi min zalik. 

Ada negara yang rakyatnya bekerjasama sejak awal, seperti Vietnam, Rusia, Arab Saudi, dan lainnya. Di Vietnam, sampai hari ini, belum ada orang meninggal karena corona walaupun wabahnya sampai di sana.

Dengan ketidakpastian keadaan begitu, secara pribadi, saya mengharapkan Pemerintah Aceh mengambil kebijakan langkah maju, yakni lockdown Aceh selama yang diperlukan, misalnya dua pekan. Melarang masyarakat ke tempat keramaian, dan sebagainya. Walaupun itu tidak dilakukan, telah ada beberapa langkah pencegahan yang diambil, seperti meliburkan anak-anak ke rumah sekolah. Itu bijaksana, walaupun saya belum sepenuhnya tenang karena belum lockdown-nya Aceh.

Akan tetapi, saya terkesima ketika membaca berita adanya acara let peunyaket di Banda Aceh, dan di tampat lain. Saya pun teringat dulu waktu kecil, pernah ada acara let penyaket di Paloh Dayah, Lhokseumawe. Orang-orang muda, laki-laki, beramai-ramai berdoa di meunasah, lalu berhamburan keluar seraya membawa suluh, berdoa serentak masuk ke jurung-jurung dan keliling gampong, mereka juga mendaki merambat ke seluruh punggung bukit, selama sepekan berturut-turut.

Let peunyaket untuk mencegah ta’eut itu efektif. Saya pun mulai agak yakin Aceh akan selamat dari wabah itu. Telah terbukti sepanjang sejarah, budaya let ta’eut atau let peunyaket oleh Aceh biasanya selalu berhasil. Saya pun berpikir, agak lucu saya tidak ingat itu sejak awal.

Dikabarkan, salah satu gampong di Aceh Besar, yaitu Lamreung, Lampeuneurut, Darul Imarah, mengadakan acara itu sejak kemarin malam. Mereka memulainya dengan membaca surat yasin setelah magrib, lalu berdoa bersama, kemudian shalat isya, lalu keliling gampong masuk ke jurung-jurung. Mereka menyeru doa dan ayat “Wa quljaalhaqqu wa zahaqal bathil…” acara itu diikuti oleh laki-laki muda. Malam ini sekira dua ratusan orang yang ikut, direncanakan esok malam lebih ramai lagi.

Saya orang yang tidak percaya pada mistik atau tahayul atau mitos, tetapi saya percaya pada adanya jin dan makhluk ghaib lainnya. Dalam hal ini, saya percaya acara let ta’eut itu dapat mengusir wabah. Baik, itu bukan mistis, bukan. Tidak samasekali. Itu sangat logis dan ilmiah. Mari kita pelajari bersama.

Virus atau ta’eut seperti corona, adalah sejenis bakteri, kuman. Kuman itu akan mati di cuaca panas, terutama terik matahai yang panas, apalagi dengan api. Disebutkan dalam sejarah, sebagian besar orang yang terkena pandemi 1918 dapat disembuhkan dengan dijemur di terik matahari.

Setiap wabah serupa punya obat serupa. Apalagi api. Api di suluh yang dibawa oleh para pemuda setiap malam selama sepekan itu dapat membunuh kuman karena terbakar atau ketakutan sendiri, kuman adalah makhluk hidup yang kecil sensitif terhadap panas. Selain itu, doa yang dibaca dengan penuh semangat menjadi sugesti penguat kekebalan tubuh seluruh penduduk gampong, dengan izin Allah.

Ajaibnya, let ta’eut itu tidak hanya menyelamatkan gampong yang mengadakannya, tetapi juga gampong-gampong yang lain. Apabila merata dilaksanakan di segala penjuru Aceh, maka seluruh Aceh akan selamat, insya Allah. Inilah bagian ajaibnya, let ta’eut seperti shalat istisqa (shalat minta hujan) saat kemarau, tatkala segala upaya hamba tidak berhasil, tanah pohon kekeringan, binatang kehausan dan kelaparan. Manusia, dari bayi sampai tua kelaparan, maka manusia memohon keajaiaban ari Allah Ta'ala, dan Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Rahman pun memberikan karunianya.

Begitu pula tentang ta’eut corona, setelah segala upaya pencegahan kita lakukan sebagaimana imbauan WHO dan pemerintah -tentu harus usaha secara lazim dan medis dulu–, kita dapat berdoa, termasuk dengan cara yang tidak mudah, yaitu let ta’eut setiap malam berturut-turut selama sepekan penuh.

Bagaimana dengan istilah ta’eut ija brok (wabah kain lapuk berkuman yang sifatnya menggatalkan siapapun yang menyentuhnya). Itu bukan ta’eut yang sebenarnya, tetapi itu hanya sebuah penghinaan untuk seseorang yang sering mengganggu orang lain tanpa sebab. Seperti wabah yang menular dan mematikan. Oya, apakah anda pernah berpikir, mengapa para ahli itu memberikan nama yang indah untuk ta’eut, corona (COVID-19). Kenapa tidak diganti saja.[]

Thayeb Loh Angen, budayawan.

Baca juga: