<!–StartFragment–>

Perburuan badak sumatera, khususnya di Kawasan Ekosistem Leuser [KEL], harus diwaspadai. Pemburu bukan hanya berasal dari masyarakat sekitar hutan Leuser, tapi juga dari Sumatera Barat, Lampung, Riau, bahkan luar negeri.

Sebanyak 21 warga Vietnam yang ditangkap pada Agustus 2012 di hutan Leuser, tepatnya di Kabupaten Aceh Tenggara, yang mengaku pencari kayu gaharu, adalah bukti nyata perburuan itu ada.

Rudi Putra, Direktur Forum Konservasi Leuser [FKL], menyatakan perburuan satwa bercula dua itu masih terjadi di KEL. Lokasinya, tidak hanya di hutan konservasi, tapi juga di hutan produksi maupun areal penggunaan lain.

“Mereka mencari cula. Perlindungan dengan memperketat pengamanan terus kami lakukan. Termasuk, menambah jumlah patroli di hutan,” terangnya, Rabu [15/5/2019].

Rudi yang telah 20 tahun bekerja dalam isu penyelamatan hutan Leuser dan satwa, mengatakan melindungi badak sumatera harus sungguh-sungguh. Populasi di alam liar yang tidak lebih 100 individu, harus benar-benar diperhatikan.

“Satu individu mati akan berkurang satu persen. Ini sangat bahaya. Harus dipastikan, tidak ada kegiatan merusak habitat yang menambah keterancaman satwa pemalu ini,” ujarnya.

<!–EndFragment–><!–StartFragment–>

Pemerintah di tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga pusat harus memastikan, hutan KEL terjaga dan tidak memberikan izin untuk kegiatan merusak. Jika tidak ada perburuan dan pengrusakan hutan, dengan luas hutan yang mencapai tiga juta hektar, Provinsi Aceh merupakan daerah yang tepat untuk pelestarian badak sumatera.

“Di beberapa lokasi, badak sudah tidak berkembang karena hutannya hancur. Butuh tindakan khusus untuk membantu perkembangbiakan. Namun, ini semua harus ada kajian dan persiapan matang, salah satunya dengan membangun Suaka Rhino Sumatera [Sumatran Rhino Sanctuary/SRS] di Aceh,” paparnya.

SRS akan diisi badak-badak yang berada di hutan terfragmentasi. “Badak-badak yang tidak bisa berkembang biak karena tidak ada pasangan, akan dikumpulkan agar bertemu dan kawin,” ungkap Rudi.

………………………. Selengkapnya baca di klik di sini >>> mongabay.co.id <<<<