Tim investigasi keselamatan penerbangan Prancis (BEA) menggelar jumpa pers, Minggu (13/3), terkait penyebab kecelakaan pesawat maskapai Germanwings di Pegunungan Alpen, tahun lalu. Senada dengan penyelidikan polisi beberapa bulan lalu, tim ini juga menyimpulkan pesawat jatuh karena pilot bunuh diri.
Sky News melaporkan secara langsung dari lokasi jumpa pers yang masih berlangsung sampai berita ini dilansir. Hasil laporan ratusan halaman itu dibacakan Kepala BEA, Remi Jouty.
Salah satu rekomendasi yang dibacakan Jouty adalah perlunya setiap maskapai menggelar tes kejiwaan rutin kepada seluruh pilot. Selain itu, BEA menyarankan asas kerahasiaan hasil tes psikologi tidak berlaku jika pilot terindikasi mengidap gangguan kejiwaan. Izin terbang pilot diduga stres harus dicabut seketika.
“Pendekatan ini penting untuk menghindari situasi pilot dalam kondisi mental tidak stabil mengendalikan pesawat,” kata Jouty. Pemeriksaan kejiwaan ini sudah dijalankan industri transportasi lainnya, termasuk perusahaan kereta di seantero Eropa.
Pesawat jenis Airbus A320 rute Barcelona menuju Dusseldorf itu menabrak gunung setelah menukik tajam dari ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut, menuju titik terakhir radar di level 200 meter hanya dalam delapan menit.
Sampai beberapa detik sebelum menghujam pegunungan, pesawat itu dikendalikan oleh kopilot Andreas Lubitz. Pria asal Kota Montabaur, Jerman, itu dinyatakan oleh BEA terbukti mengidap gangguan jiwa serta depresi tingkat menengah. Lubitz menenggak pil anti-depresan beberapa minggu sebelum insiden nahas tersebut. Kopilot 28 tahun itu memperbarui izin terbangnya pada November 2014.
“(Lubitz) mengidap gejala yang secara klinis disebut episode depresif psikotik saat kejadian,” imbuh Jouty.
Insiden pada 24 Maret 2015 itu menewaskan seluruh 144 penumpang dan enam kru. Korban berasal dari Jerman, Spanyol, Inggris, Kolombia, hingga Kazakhstan. Korban tewas termasuk dua bayi dan rombongan 16 pelajar dari Jerman yang sedang darmawisata.
Tim BEA memastikan Germanwings jatuh akibat aksi Lubitz bunuh diri, berdasarkan rekaman suara kokpit (CVR) serta kotak hitam pesawat.
Insiden bermula saat Pilot Patrick Sondenheime keluar dari kokpit karena ke kamar kecil. Saat hendak masuk lagi, pintu ruang kemudi tak bisa diakses. Pintu itu dikunci dari dalam oleh Lubitz. Selanjutnya, Lubitz mengganti kendali ke mode manual, lalu menurunkan secara ekstrem ketinggian pesawat.
Pilot diduga sudah merasa ada yang aneh sehingga memanggil nama kopilotnya dengan keras, bahkan cenderung berusaha menggebrak pintu dalam 10 menit akhir rekaman CVR. Selama rekaman itu, terdengar Lubitz bernafas secara normal, menandakan dia secara sadar melakukan aksinya.
Tim BEA mengatakan pilot Patrick menggunakan segala cara, termasuk memukul pintu kokpit memakai tabung pemadam api, untuk menyelamatkan pesawat. “Terdengar suara benda keras dihantamkan ke pintu kokpit sebelum pesawat jatuh,” kata Jouty.
Keluarga korban berniat menggugat kembali maskapai, serta sekolah penerbangan yang dulu diikuti Lubitz. Phillip Bramley (60) asal Inggris, ayah dari salah satu korban Germanwings, mengatakan ada yang salah dengan pemeriksaan psikologi di maskapai maupun sekolah penerbangan.
“Seandainya 41 dokter yang pernah memeriksa (Lubitz) selama bekerja tidak mengabaikan kondisi kejiwaannya, anak saya pasti masih hidup,” ujarnya.
Laporan BEA juga memberi amunisi bagi keluarga korban untuk menggugat. Disebutkan dalam laporan ini, bahwa dokter tidak memeriksa secara seksama bahwa Lubitz jelas-jelas mengidap gangguan jiwa.
“Seharusnya insiden ini bisa dihindari oleh maskapai maupun regulator terkait,” kata Jouty.[] Sumber: merdeka.com




