Di antara nama binatang dalam Alquran yang disandingkan dengan redaksi yang baik adalah burung hud hud. Burung yang populer karena kisahnya diabadikan dalam Surah An-Namlu (ayat 20-26).
Dalam sistem kerajaan Nabi Sulaiman yang luas dan mencakup semua wilayah pada itu (untuk memantau wilayah yang jauh ia menggunakan kendaraan angin/awan, sebulan perjalanan biasa) sedang semua jenis makhluk ditundukkan Allah untuk Nabi Sulaiman, (diantaranya ada jin dengan tugas khusus mengambil perhiasan/mutiara dari dasar laut), maka Hud-hud hanyalah bagian dari pasukan biasa.
Namun si hud hud yang seukuran merpati, dengan kemampuan terbang yang rendah dan bukan tipe burung penjelajah, ia telah melampau harapan Nabi Sulaiman. Hal itu karena si hud hud dengan ilham dan “pemahamannya” akan risalah Nabi Sulaiman telah menemukan fakta terbaru tentang wilayah Saba', kota yang dipimpin seorang ratu yang ingkar kepada Allah ” Mengapa mereka bisa menyembah matahari, padahal Allah telah memberi mereka rezeki dari langit dan bumi?”, begitu ungkapan Hud hud kepada Nabi Sulaiman saat ia diminta menyampaikan alasan keterlambatannya dalam “rapat” besar pasukan kerajaan.
Dialog di atas dan beberapa dialog lainnya dalam kisah tersebut bukan fiksi atau fiktif, kesemuanya merupakan realitas pada masa kerajaan Nabi Sulaiman. Dihadirkan kepada kita lewat wahyu yang diterima oleh Nabi kita Muhammad SAW.
Dan kisah si burung hud hud ini menjadi pelajaran yang besar tentang kehebatan dan kekuatan yang mesti dioptimalkan, walau dengan kapasitas diri yang kecil. Kehebatan itu akan tetap muncul seiring Ilham dari Allah dan seberapa kuat kita membaca visi hidup (si hud hud sangat meyakini ajaran Nabi Sulaiman) sebagai gambaran dari tugas yang kita emban. Baik dalam skala personal, sosial dan dakwah ilallah.[]
Penulis: Taufik Sentana, Ikatan Dai Indonesia, Kabupaten Aceh Barat.


