BANDA ACEH – Firman Saputra, tokoh muda dari Krueng Geukueh, Aceh Utara, mengatakan, pemerintah harus mencetak sumber daya manusia hingga siap bekerja. Hal itu supaya masyarakat, terutama pemuda di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe tidak menjadi penonton, atau hanya diterima sebagai satpam, petugas kebersihan, dan tukang potong rumput ketika industri-industri berkembang di sana.
“Pemerintah harus memperbanyak pelatihan kepada pemuda sekitar KEK Arun dalam mengasah skill. Jangan sampai ‘buya krueng teudong-dong, buya tamong meuraseuki’. Sebab ini sudah banyak terjadi di zona proyek vital yang ada di Pase. Pemuda harus betul-betul mempersiapkan diri,” kata Firman Saputra, di Banda Aceh, Senin, 2 Juli 2018.
Firman yang merupakan pemerhati perkembangan ekonomi menilai sejauh ini KEK Arun belum berjalan sebagaimana mestinya.
“Lambannya jalan KEK Arun selama ini masih terkendala pada persoalan klasik. Seperti masalah pengurus diduga harus dari kalangan-kalangan politik, dan masalah lobi pemerintah dengan investor,” kata Friman.
Firman mengatakan, perekonomian di Pase (Lhokseumawe dan Aceh Utara yang menjadi lokasi KEK Arun) saat ini angka grafiknya belum bergerak. Pasalnya, pemimpin di Pase belum fokus dalam menggerakkan ekonomi kreatif kepada masyarakat, hanya fokus dengan pekerjaan APBD.
“Saya berharap dengan adanya KEK Arun, perekonomian masyarakat (bekas) kota petrodolar dapat pulih seperti sedia kala,” kata Firman.
Namun, Firman masih merasa ragu dan pesimis jika melihat cara kerja pemerintah daerah terkait KEK Arun. “Saya tidak yakin. Sedikit pun saya tidak yakin,” kata Firman yang juga Manajer Grup Band Aceh, Seuramoe Reggae.[](idg)



