LHOKSEUMAWE – Kehadiran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun menjadi momentum baik bagi pertumbuhan ekonomi Aceh. Hanya saja diperlukan pemanfaatan optimal untuk membangkitkan perekonomian masyarakat.
“Habisnya gas bumi di Arun, ExxonMobil dan sekitarnya, menjadikan pertumbuhan ekonomi masyarakat Aceh Utara dan sekitarnya terlihat jelas mengalami penurununan sangat drastis, kata Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara, Prof. Dr. Apridar, di Lhokseumawe, Rabu, 8 Maret 2017..
Menurut dia, akibat lemahnya perekonomian daerah maka kesenjangan terjadi di kalangan masyarakat. Sementara itu, butuh perencanaan bagi pemimpin untuk membangun masyarakat di bidang ekonomi.
Pak Presiden Joko Widodo sudah mau menandatangani dan menjadikan daerah Arun menjadi KEK, ini wajib kita manfaatkan sebaik dan seprofesional mungkin. Sekarang perlu kita desak adalah pemerintah provinsi bersama masyarakat untuk mendukung lebih optimal program tersebut, ujarnya.
Apridar menilai, program tersebut sudah pasti akan membangun perekonomian yang lebih baik. Program ini juga disebutkan akan menyerap tenaga kerja cukup banyak.
“Diperkirakan, lebih dari 30 ribu (tenaga kerja) yang dibutuhkan,” katanya.
Di sisi lain, penolakan KEK Arun dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara atau BUMN merupakan kesalahan persepsi saja. Dia berharap adanya komunikasi baik yang dibangun untuk menyamakan persepsi ini.
Kita jangan memikirkan tentang siapa yang memberikan pendapat. Jangan pendapat orang lain seolah-olah itu menjadi perbedaan dengan pendapat kita sendiri. Harusnya bangun persamaan persepsi, katanya.
Apridar menyebutkan pihak akademisi sudah pernah membicarakan hal ini dengan berbagai elemen. Saat itu, pertemuan tersebut digelar di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Dalam pertemuan tersebut lahir beberapa keputusan bersama yang diharapkan dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah dengan cepat.
“Bukan selalu memikirkan hal lain di belakang.P emerintah harus memikirkan jangka panjang. Jangan mikir kelompok sendiri. Kita punya sarana yang luar biasa, jangan memikirkan permasalahan persepsi. Kita harus legowo, pikirkan untuk Aceh yang lebih baik ke depan, kata Apridar.[](rel)

