KITA hidup di dunia tidak terlepas dari berbagai macam cobaan dan ujian. Terkadang hari ini senang, pasti esok akan berganti dengan kebahagian. Begitu juga sebaliknya silih berganti akan terus berotasi dalam dua untaian yang berpasangan sebagai sunnatullah.

Untaian air mata tangisan terkadang tidak dapat di hindari, kala kebahagian dan kesedihan menimpa seseorang. Namun tetesan air mata itu akan bermakna apabila di landasi oleh air mata taubat dan penyesalan dari segala dosa dan maksiat. Tangisan yang lahir karena takut terhadap pelanggaran norma syariat karena Allah SWT.
Malah mereka yang menangis terhadap penyesalan akan hingga menetesi bumi akan pasti akan terhindar dari siksaan hingga hari kiamat nantinya. Pernyataan ini sesuai dengan hadist rasulullah saw, beliau bersabda : “Barangsiapa yang mengingat Allah kemudian dia menangis sehingga air matanya mengalir jatuh ke bumi niscaya dia tidak akan diazab pada hari kiamat kelak” (HR. Al-Hakim dan dia berkata sanadnya shahih).

Tetesan air mata itu terbagi ke dalam beberapa bagian. Bahkan sepuluh katagori. Namun semuanya akan bermakna di sisi Allah SWT? Tentu saja tidak, hanya sepersepuluh saja yang merupakan bahagian karena Allah sedangkan selebihnya sia-sia belaka bahkan akan berefek kepada riya. Na'uzubillah. Sungguh benar sebagaimana di ungkapkan oleh Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Menangis itu dibagi menjadi sepuluh bagian, yang satu bagian karena Allah dan yang sembilan bagian semuanya karena riya’. Jika yang satu bagian itu terjadi setahun sekali, insya Allah dia akan selamat dari neraka.” Air mata kita termasuk golongan mana?

Dalam kesempatan yang lain baginda nabi juga menyebutkan nilai plus mereka yang menangis dosa dan kesalahan karena Allah SWT. Ini sesuai dengan perkataan Rasulullah saw, beliau bersabda: “Tidak akan masuk ke dalam api neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah hingga air susu ibu (yang sudah diminum oleh anaknya) kembali ke tempat asalnya” ( HR.at-Tirmidzi).

Dari al-Abbâs Bin Abdul Muthallib Radhiallaahu anhu, Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya,
“Dua jenis mata yang tidak tersentuh api neraka, (pertama) mata yang menangis (ditengah kesendirian) di malam hari karena takut pada Allah Subhannahu wa Ta'ala , dan (kedua) mata yang digunakan untuk berjaga-jaga (pada malam hari) di jalan Allah.” (HR. At-Thabrani).

Bahkan juga tangisan air mata taubat sangat besar hikmahnya. Salah satunya tidak akan di sentuh oleh api neraka. Pernyataan tersebut berdasarkan hadist rasulullah saw dari Zaid Bin Arqam Radhiallaahu anhu , dia berkata, “Seseorang bertanya kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , “Ya Rasulullah dengan apa aku membentengi diri dari api neraka?

Rasulullah menjawab, “Dengan air matamu, karena mata yang menangis karena takut pada Allah niscaya neraka tidak akan menyentuhnya selama-lamanya” (HR. Ibnu Abi Dunya dan Ashbahâny).

Berdasarkan penjelasan di atas, kita sangat di anjurkan untuk mencermin diri dengan intropeksi dan bertafakkur mengingat dosa dan kesalahan. Justru air mata itulah permata yang tidak ternilai harganya sebagai penebus dosa. Bahkan para arifbillah penempuh jalan sufi (salik) mereka dalam halaqah zikirnya oleh guru dan mursyid di anjurkan untuk belajar menangis terhadap dosa dalam tafakurnya.

Saat merefleksi diri dengan dosa dan kesalahan yang telah di toreh tanpa meneteskan air mata penyesalan. Menandakan kerasnya sang qalbu kita yang dilapisi oleh noda hitam berkarat. Bagaimana menyinari orang lain dengan nasehat sedangkan qalbu kita masih gelap. Kala itulah tidak memberi bekasan ketika menasehati orang lain tanpa duluan kita telah mampu menasehati diri sendiri. Bagaimana sebuah lampu pijar yang redup tanpa cahaya mampu menyinari alam kegelapan di sekitarnya?[]