Kita sering diperbudak oleh nafsu dan itu dapat kita lihat realitas dalam kehidupan sehari-hari. Begitu juga, karena keinginan nafsu, seorang raja menjadi diperbudak olehnya. Sementara karena kesabaran membuat hamba menjadi raja. Tahukah anda kisah Nabi Yusuf a.s., dan Zulaikha?
Nabi Yusuf benar-benar menjadi raja di Mesir berkat kesabarannya. Sementara Zulaikha menjadi orang yang hina, miskin, dan buta karena terseret keinginan hawa nafsunya. Dia tidak memiliki kesabaran dalam menghadapi cintanya kepada Nabi Yusuf.
Abu Hasan Ar-Razi bercerita, ia bermimpi melihat ayahnya setelah dua tahun dari kematiannya. Dalam mimpinya, ia melihat ayahnya memakai baju dari aspal. Lalu, ia bertanya: Wahai ayah, mengapa aku melihat anda sebagai ahli neraka?
Sang ayah menjawab: Waspadalah anda dari tipu daya nafsu.
Sebagaimna terungkap dalah syair berikut ini:
Aku diuji dengan empat hal yan kesemuanya membebaniku begitu berat dan mencelakakan aku. Yaitu iblis, dunia, jiwa dan hawa nafsuku. Bagaimana keluar daripadanya, karena semuanya adalah musuhku. Aku melihat bahwa nafsu selalu mengajak dan membisikkan kecendrungannya di dalam kegelapan syahwat dan pendapat.
Hatim Al-Hasan berkata: Nafsuku begitu ulet dan tangguh, ilmuku adalah pedangku, dosaku adalah kerugianku, setan adalah musuhku dan aku adalah orang yang mengkhianati diri sendiri.
Seorang ahli makrifat menceritakan bahwa Hatim menyatakan sesungguhnya jihad itu ada tiga macam. Yaitu: pertama, jihad dalam menghadapi orang kafir. Ini merupakan jihad lahiriah. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah swt., Mereka berjihad di jalan Allah. (QS. Al-Maidah: 54)
Kedua, jihad terhadap orang yang batil, dengan jalan memberikan pengertian dan menyertainya dengan argumentasi (hujjah). Sebagaimana dijelaskan dalam fimran Allah swt., Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (QS. An-Nahl : 125).
Ketiga, jihad melawan hawa nafsu yang selalu memerintahkan untuk melakukan kejahatan. Allah swt., berfirman, Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. (QS. Al-Ankabut : 69)
Nabi Muhammad saw., bersabda: Jihad yang paling utama adalah jihad melawan hawa nafsu.
Para sahabat, ridhwanullahi alaihim ketika pulang dari jihad melawan orang-orang kafir, mereka berkata: Kita telah kembali dari perang kecil menuju pada perang yang lebih besar.
Mereka menyatakan bahwa jihad menghadapi hawa nafsu dan setan sebagai jihad yang besar. Karena jihad melawan orang-orang dalam medan pertempuran, hanya terjadi pada waktu tertentu saja, dan musuh yang dihadapi juga dapat terlihat dan dapat diketahui dengan jelas.
Namun, berperang melawan setan dan hawa nafsu, berarti mereka berperang melawan musuh yang tak dapat dilihat dan medannya pun tak terbatas.
Dengan demikian, berperang melawan musuh yang dapat dilihat dengan jelas tentu lebih mudah daripada menghadapi musuh yang tidak dapat dilihat.
Di samping itu, setan memiliki pembantu di dalam diri anda, yaitu hawa nafsu. Sedangkan orang kafir yang anda hadapi tidak memiliki pembantu di dalam diri anda. Oleh sebab itu berperang melawan hawa nafsu merupakan perang yang spektakuler.
Ketika anda dapat membunuh dan mengalahkan orang kafir, berarti anda meraih kemenangan dan mendapatkan harta rampasan perang. Jika orang kafir dapat membunuh anda, maka anda mati syahid dan mendapatkan balasan surga.
Namun, anda tidak dapat membunuh setan yan selalu melakukan perlawan terhadap anda. Apabila ternyata setan dapat membunuh dan mengalahkan anda, maka anda menjadi terjatuh dalam siksaan Tuhan.
Sebagaimna disebutkan: Barangsiapa yang kudanya terlepas dari tangannya dan lari meninggalkannya dalam medan pertempuran, maka kuda itu akan jatuh pada tangan orang-orang kafir yang menjadi musuh anda. Akan tetapi ketika imannya yang terlepas dan lari meninggalkannya, maka ia menjadi jatuh ke dalam murka Tuhan Yang Maha Perkasa. Naudzu billahi minhu. Ketika seseorang terjatuh dalam kekuasaan prang-orang kafir, maka tangannya tidak terbelenggu pada lehernya, kakinya tidak diikat, perutnya tidak sampai lapar dan tidak pula telanjang tubuhnya. Namun, apabila seseorang terjatuh dalam kemurkaan Tuhan, maka wajahnya menjadi hitam pekat, tangannya terbelenggu dengan rantai pada lehernya, kakinya diikat dengan tali-tali neraka, makanan dan minumannya api dan pakainnya pun juga dari api.[]
Rujukan: terjemahan Kitab Mukaasyafatul Qulub (sumber:dinulislamnews.com)

