Kita manusia sebagai khalifah di muka bumi mempunyai kewajiban yang harus kita kerjakan. Namun, terkadang dalam berinteraksi untuk merealisasikan kewajiban itu tidak sedikit hambatan dan rintangan yang harus kita hadapi. Termasuk harus mengendalikan diri dari dorongan dan bisikan hawa nafsu yang mengajak kita untuk tidak menjalankan perintah dan kewajiban yang telah digariskan oleh syariat.

Kita sebagai manusia yang mendapat al-'aqlu (akal), seharusnya mengendalikan kecenderungan hawa nafsu dengan menahan lapar. Karena lapar merupakan pengendalian terhadap musuh Allah, sedangkan menyuburkan setan adalah memperturutkan kesenangan hawa nafsu, makan dan minum.

Nabi Muhammad saw., bersabda: “Sesungguhnya syetan berada dalam diri anak Adam berjalan bersama peredaran darah, maka persempitlah perjalanannya dengan cara lapar“.

Sesungguhnya manusia yang lebih dekat kepada Allah swt., kelak pada hari kiamat ialah orang yang lebih lama dalam menahan lapar dan haus. 

Begitu juga dosa yang paling besar yang akan merusak dan menghancurkan anak Adam adalah keinginan nafsu perut. Sebab keinginan nafsu perut, Adam dan Hawa diusir dari perkampungan yang abadi, yaitu surga ke perkampungan yang hina dan miskin, yaitu dunia. Ketika Allah melarang mereka untuk memakan buah syajarah, keduanya terkalahkan oleh keinginan nafsu perutnya dan tetap memakan buah itu. Akhirnya aurat keduanya menjadi tampak.

Perlu kita ketahui pada hakikatnya, perut merupakan sumber dari segala keinginan nafsu. Orang ahli hikmah berkata: “Barangsiapa yang dikuasai hawa nafsunya, maka dia menjadi tertawan oleh kecintaan terhadap keinginan-keinginan dan terkungkung dalam kesalahan-kesalahannya. Dan hawa nafsu itu akan menghalangi hatinya untuk dapat menerima faedah.”

Barangsiapa yang menyirami diri terhadap anggota-anggota tubuhnya dengan memperturutkan kesenangan-kesenangan nafsu, berarti dia menanam pohon penyesalan di dalam hatinya.

Allah telah menciptakan mahluk dalam tiga kategori. Dia menciptakan malaikat dan menyusun di dalam diri mereka akal, tanpa dibekali nafsu. Dia menciptakan binatang dan menyusun di dalamnya keinginan (nafsu), tanpa dibekali dengan akal. Sementara manusia lebih baik, dibekali akal juga dilengkapi dengan keinginan/nafsu.

Barangsiapa yang akalnya bisa mengalahkan keinginan hawa nafsunya, maka dia kan mencapai tataran yan lebih baik dari malaikat.

Ibrahim Al-Khawas berkata: “Suatu ketika aku berada di gunung Lukam, saat aku melihat sebuah delima, aku menjadi menginginkannya, maka aku mengambil satu dan membelahnya, namun rasanya masam, dan aku lalu meninggalkannya”. 

Selanjutnya aku melihat seorang laki-laki terlempar yang dikerumuni oleh lebah-lebah. Aku mengucapkan salam kepadanya: “Assalamu alaika”.

Dia menjawab: “Wa alaikas salam, ya Ibrahim”.

Ibrahim berkata: “Aku perhatikan Anda mempunyai urusan dengan Allah, hendaklah Anda momohon kepadanya agar Dia menyelamatkan Anda dari serangan lebah-lebah ini”.

Laki-laki itu berkata: “Aku melihat Anda mempunyai kedudukan di sisi Allah, maka hendaklah kiranya Anda meminta kepada-Nya agar Ia menyelamatkan Anda dari keinginan terhadap buah delima. Karena delima orang menjadi sakit di dunia, sedangkan sengatan lebah hanya terletak dan mengenai tubuh, sedangkan sengatan hawa nafsu, mengenai hati”.

Kemudian Ibrahim berlalu pergi meninggalkannya.

Hanya karena keinginan nafsu, seorang raja menjadi diperbudak olehnya, sementara karena kesabaran membuat hamba menjadi raja.[]

Rujukan Kitab Mukaasyafatul Qulub (dinulislamnews.com)