Nye han jeut baca kitab hana ilme, lage ureung buta huruf han jeut baca buku (Kalau tidak mampu membaca kitab maka tak ada ilmu agama Islam, seperti orang buta huruf tidak bisa membaca buku sehingga tak memiliki ilmu pengetahuan umum),” ujar Teungku Usman Abdullah atau Tgk. Usman Ibni Abdillah.

Tgk. Usman Abdullah akrab disapa Abati Banda Dua adalah pemimpin Tarbiah Islamiah Mazhab Syafi’i di Aceh saat ini. Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ini mendeklarasikan berdirinya kembali Tarbiah Islamiah Mazhab Syafi’i, di Balai Pengajian atau Dayah Darul Mukminin, di Banda Dua, Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, 5 Juni 2013. Deklarasi tersebut sekaligus sebagai tanda dimulainya pengajian kitab kuning, dan memperingati 1229 tahun wafatnya Imam Syafi’i.

Tgk. Usman Abdullah lahir di Gampong Paya Teungoh, Kecamatan Simpang Kramat, Aceh Utara, 68 tahun silam. Ia alumni dayah Cot Cibrek Simpang Kramat, dayah Tanoh Mirah Peusangan, dan dayah Blang Bladeh, Bireuen. Tgk. Usman Abdullah juga sempat menimba ilmu pada (almarhum) Abu Ishaq Ulee Titi Lambaro dan Abuya Muhibuddin Waly Al-Khalidy di Banda Aceh. Saat ini, Tgk. Usman Abdulah menetap di Banda Dua, Alue Lim, memimpin Dayah Darul Mukminin.

Menurut Tgk. Usman Abdullah, Tarbiyah Islamiyah (Tarbiah Islamiah) Mazhab Syafi’i sudah ada sejak masa Kerajaan Islam Samudra Pasai yang didirikan Sultan Malikussaleh. Tarbiah Islamiah terus berkembang di Aceh sampai saat ini. “Sejak masa Malikussaleh kana, seumeubeut. Jadi, nyoe ta kembali keu dasar lom, seperti masa Malikussaleh sampe Syiah Kuala, karena ilmu sama, mazhab Syafi’i, sampe jinoe,” ujar Tgk. Abdullah Usman kepada portalsatu.com/ di Lhokseumawe, 9 Mei 2017, sore.

Tgk. Usman Abdullah menjelaskan, pendidikan Islam di Aceh terus berkembang melalui lokal/ruangan di dayah-dayah. Namun, kata dia, pengajian Alquran dan kitab kuning saat ini belum menyeluruh di tengah masyarakat Aceh secara umum. “Jadi, yang perle ta pike keu rakyat, ta ba beut (yang perlu kita pikirkan saat ini pengajian untuk rakyat, kita bawa/berikan pengajian,” katanya.

Itulah sebabnya, Tgk. Usman Abdullah membangkitkan kembali Tarbiah Islamiah Mazhab Syafi’i di Aceh. Namun, ia tidak membuka sekretariat/kantor, juga tanpa sekretaris dan bendahara. Sebab, menurutnya, Tarbiah Islamiah yang ia pimpin ini bertujuan membina moral umat, bukan untuk kepentingan politik.

Han jeut ta angkat bendahara, karena tujuan tanyoe ta peugot acuan. Kon lage partai, peugot partai untuk merebut kekuasaan. Nyoe membina moral, kon merebut kekuasaan. Nyoe sebagai acuan untuk memudahkan orang yang sudah berkuasa. Ureung kana kuasa nyak mudah lom geu peubut,” ujar Tgk. Usman Abdullah.

Ia membuat acuan dan diserahkan ke kepala daerah untuk dilaksanakan bersama Muspida mulai tingkat provinsi sampai kabupaten/kota di Aceh. Lalu, Muspida kabupaten/kota diharapkan mengeluarkan instruksi ke pemerintah kecamatan sampai gampong-gampong.

Tgk. Usman Abdullah mencontohkan cara menghidupkan pengajian di tengah masyarakat. Misalnya, di sebuah gampong ada lima teungku. Mereka kemudian menjadi guru seumeubeut (pengajian) bagi masyarakat. “Kon dakwah, tapi baca kitab. Misal, na ureung 400, kumpulkan dalam 20 bale, peugot bale trieng. Saboh bale 20 orueng, baca kitab Masailal (Bukan melalui dakwah, tetapi pengajian baca kitab kuning. Misalnya, ada warga 400 orang, kumpulkan dalam 20 balai, bangun balai berkonstruksi bambu. Satu balai 20 orang peserta pengajian, baca/belajar kitab Masailal),” katanya.

Nye ta ceramah mantong, hana ubah akhlak ureung, karena hana ilme. Ilme lam kitab. Nye han jeut baca kitab hana ilme, lage ureung buta huruf han jeut baca buku. Jadi, ta peugadoh buta huruf dile, bek na le ureung buta huruf. Jangan sampai tidak bisa baca alif, ba, ta, tsa,” ujar Tgk. Usman Abdullah.

Jadi, kata Tgk. Usman Abdullah, tarbiah ini untuk membina moral dan menghilangkan kebodohan rakyat. “Artinya, pemerintah harus membina moral rakyat dan menghilangkan kebodohan rakyat. Nye kana ilme kana wibawa, kana male,” katanya.

Dalam buku catatan disusun Tgk. Usman Abdullah (Tgk. Usman Ibni Abdillah) tentang sejarah Tarbiah Islamiah Mazhab Syafi’i, disebutkan visi/misi ialah “Meronovasi moral anak bangsa yang sesuai dengan UUD 1945 dan Pancasila dengan metode: Mengajar ilmu tauhid untuk mengetahui yang menciptakan alam semesta dan untuk mengetahui segala sesuatu dalam ilmu Allah SWT; Mengajar ilmu fiqih untuk mengetahui amar ma’ruf nahi munkar; Mengajar ilmu akhlak untuk menghilangkan sifat yang kotor seperti dengki, iri hati, sombong dan lainnya”.[](idg)