BANDA ACEH – Dosen Ekonomi Politik Unsyiah, Shaivannur M. Yusuf, mengatakan, untuk melepaskan Aceh dari 'kutukan' kemiskinan, tidak bisa hanya bergantung kepada APBA. Akan tetapi, seluruh komponen harus bergerak untuk menciptakan lapangan kerja baru.
“Tentang kemiskinan, bagi saya, kita tidak melulu mengdompleng harapan pada APBA sebagai peningkatan ekonomi. Tetapi ada sektor swata yang bisa dijadikan oleh pengusaha Aceh untuk peningkatan produktivitas perekonomian Aceh,” ujar Shaivannur saat diminta tanggapannya, Rabu, 16 Januari 2019.
Menurut Shaivannur, selama ini sektor swasta tidak menjadi perhatian, terlebih bagi investor lokal. “Kami melihat paradigma pengusaha kita terlalu fokus di kontraktor pemerintah dan perkebunan,” katanya.
Padahal, kata Shaivannur, sektor pariwisata, perikanan dan kelautan atau industri lain cukup menjanjikan. Oleh karena itu, ia berharap pengusaha lokal melihat potensi Aceh, terutama investasi terkait nilai tambah.
“Karena sulitnya mengajak investor luar, maka kita harap pengusaha kita mau melihat potensi ini,” ujar Shaivannur.
Pemerintah pun sudah menyediakan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun di Lhokseumawe dan Aceh Utara, Kawasan Industri Aceh (KIA) di Aceh Besar, serta Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas Sabang.
“Tentang Sabang, seharusnya kita bisa memanfaatkan spot pariwisata. Infrastruktur saya rasa sudah cukup memadai, terlebih ada dukungan dari BPKS,” kata Shaivannur.
Di sisi lain, Shaivannur berharap anak muda atau sarjana lulusan perguruan tinggi jangan melulu mengharapkan pekerjaan dari pemerintah. “Lulusan kampus itu (harus) mampu menciptakan lapangan pekerjaan dengan kreativitasnya. Ini terkait pola pikir yang harus diubah,” ucap dosen muda ini.
“Kita bisa lihat bagaimana 'budaya' malas di Aceh. Setelah selesai kuliah harapannya lowongan kerja dari pemda, bukan melakukan sesuatu yang produktif untuk membantu dirinya, orang lain dan pemerintah,” kata pria kelahiran Lueng Bimba, Meureudu, Pidie Jaya itu.
Shaivannur menyatakan, “Intinya seluruh komponen harus bergerak untuk menciptakan lapangan kerja. Inilah jalan keluar dari kutukan kemiskinan.”.
Diberitakan sebelumnya, Aceh masih menjadi provinsi nomor wahid termiskin di Sumatera dan peringkat keenam termiskin di Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Aceh pada September 2018 mencapai 831 ribu orang (15,68 persen).(Baca: Aceh Provinsi Termiskin di Sumatera)[]
Baca juga: 2016-2018, Ini Jumlah Dana Transfer Pusat Untuk Aceh




