ALUMNUS Universitas Jabal Ghafur angkatan 2011 ini memiliki nama lengkap Zulfikar dengan gelar Sarjana Teknik. Ia adalah perancang mobil berbasis web. Rancangan tersebut ia buat sebagai penelitian untuk menyelesaikan masa studinya (skripsi). Karya unggulan tersebut dilengkapi dengan kamera yang dapat dikontrol dari jarak jauh dengan bantuan jaringan internet.

Pemuda yang tinggal di Gampông Reuntoh Reubee Kecamatan Delima Pidie ini mengaku tertarik dengan teknologi internet, khususnya website karena dapat berbagi pengetahuan ke seluruh dunia melalui tulisan atau turorial yang ia buat. Di lain sisi ia juga mendapat keuntungan dari kegiatan yang dilakoninya itu.

Sebenarnya, kata Zulfikar, ide membuat mobil berbasis web tersebut sudah lama tercetus. Namun, karena faktor ekonomi, ide itu pun kandas di tengah jalan. Belakangan ia berhasil mewujudkan impiannya.

“Untuk pembuatan mobil remote control menggunakan web ini didukung oleh dosen saya Muhammad Ichsan, S.T., M.Kom. dan Teungku Aminullah,” kata Zulfikar kepada portalsatu.com melalui aplikasi line, Rabu, 13 Januari 2016.

Apa yang ia lakukan mendapat dukungan penuh dari keluarga dan teman-temannya.

“Saya mulai tertarik kelola web sejak 2012, saya juga suka membaca apa pun itu. Selain kelola web saya juga banyak mengelola blog walaupun saat ini hanya 8 blog yang masih aktif,” kata Zulfikar.

Selain menyukai teknologi informasi, Zulfikar juga suka berorganisasi. Terhitung sejak 2011-2015 ia aktif sebagai mentor saat kegiatan orientasi pendidikan mahasiswa baru. Ia juga aktif di Persatuan Mahasiswa Fakultas Teknik Informatika Jabal Ghafur sejak 2012-2014.

Pemuda yang hobi bertualang ini menjadikan blog sebagai tempat untuk menyimpan ide dan gagasan pribadinya. “Ketika saya membaca berita yang menurut saya menarik, maka akan saya pos ke meuria.net salah satu web saya. Bila berita itu berkaitan dengan robot atau teknologi akan saya pos ke blog saya arduinoach.blogspot.co.id atau ke zulfikar218.blogspot.co.id,” ujar anak dari pasangan Hasbi dan Nurmiza ini.

Lelaki yang gemar membaca ini mengaku tertarik mengenai hal-hal baru dan berusaha untuk menciptakan hal tersebut, terutama yang berbau teknologi, “Kalau lagi ada uang, saya hobinya menciptakan karya, heheh” ujarnya sambil tertawa.

Mobil berbasis web miliknya sudah diperlombakan dalam ajang bergengsi I+Aceh 2015 Internasional Art-Creativity & Engineering Exhibition yang diselenggarakan oleh kampus Universitas Ubudiyah Indonesia di Banda Aceh. Ada 32 negara yang ikut berpartisipasi dalam acara I+Aceh ini, di antaranya Malaysia, Korea, USA, Kanada, dan lainnya.

Dalam cipta karyanya tersebut, Zulfikar berhasil menyabet 1 medali emas dari International Art-Creativity & Engineering Exhibition (I+Aceh), 1 medali special award dari Asian Invention Association (IAI), 1 piala special award dari Malaysian Research And Inovation Society (MYRIS) dan boneka lucu dari korea.

Meskipun ini merupakan karya terbaik, Zulfikar tidak berniat untuk menjual di pasaran karena alasan tertentu, “Kita kalah dengan pasar, saya tidak bisa memasarkan hasil karya saya karena kalah saing, pasar bisa menjual dengan harga murah, tapi saya tidak, karena kita beli suku cadangnya mahal,” ujar pria kelahiran, Jambee, 9 September 1992.

Dia menjelaskan, setiap karya yang ia ciptakan hanya sebagai implementasi ilmu yang telah ia dapatkan, dan menyalurkan hobi semata tanpa mempunyai niat untuk menjual. Saat ini Zulfikar juga sedang membuat “car remote control android”.  Mobil ini nantinya bisa dikontrol melalui smartphone Android. Mobil remote control biasa yang masih menggunakan frekuensi radio, yang hanya bisa dikontrol pada jarak 100 M berbeda dengan mobil sebelumnya yang dapat dikontrol melalui web.

“Ke depannya sistem roda pada mobil ini (remote controller with android) akan saya fungsikan ke robot yang akan saya buat selanjutnya,” ujar anak ketiga dari lima bersaudara itu.

Zulfikar merupakan alumnus dari SMK Lilawangsa Sigli, Jurusan Elektronika, melalui pelatihan elektronika melalui Mobile Training Unit (MTU II), Zulfikar berhasil meraih juara I. Ia menamatkan pendidikan dasarnya di SDN 2 Kepahyang Bengkulu. Karena pekerjaan orang tua, akhirnya Zulfikar kembali ke Aceh dan bersekolah di SD Negeri Neulop Rubee. Ia kemudian melanjutkan studinya pada SMP Negeri 2 Delima.[] (ihn/*sar)