Oleh Ayi Jufridar, penulis dan penikmat buku
Data Buku:
Judul: Enigma Pusaka di Kepulauan Nusantara
Penulis: Hokky Situngkir
Penerbit: Expose
Cetakan I: September, 2023
Tebal: xv + 306 halaman
ISBN: 978-602-7829-76-3
PETANI tradisional Aceh memiliki kalender sendiri dalam menggarap sawah dan berbagai jenis tanaman lainnya. Kalender kuno itu disebut keuneunong, sebuah istilah yang semakin asing terdengar di telinga generasi muda, bahkan bagi yang lahir dari keluarga petani.
Keuneunong ini mengatur jadwal petani membajak sawah, menyemai benih, menanam padi, membersihkan ilalang (mumpoe), sampai tiba masa panen. Bukan hanya padi, penggarapan tanaman pertanian lainnya di musim kemarau pun diatur dengan menggunakan kalender keuneunong.
Kalender tersebut disusun berdasarkan prakiraan cuaca, arah angin, musim, dan peredaran matahari. Secara akademis, keuneunong ini memiliki rumus matematis yang lengkap dan rinci. Dari aspek seni budaya, tradisi yang sudah berlangsung sejak zaman Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636 M), diuraikan dalam hikayat Aceh yang penuh estetika.
Tradisi keuneunong tidak ditemukan dalam buku Enigma Pusaka di Kepulauan Nusantara karya Hokky Situngkir. Namun, buku tersebut menggali jejak ilmu pengetahuan dalam khazanah budaya Nusantara yang serupa dengan kalender pertanian masyarakat Aceh zaman dulu, misalnya “primbon” perbintangan masyarakat Jawa yang memulai penanaman padi setelah terlihat Lintang Waluku atau Tujuh Bidadari atau Orien dalam istilah modern (hal.16).
Beberapa tradisi suku lainnya juga memiliki kalender tersendiri dalam memulai tahapan kegiatan sosial, pertanian, bahkan ritual ibadah. Istilah dan tradisi tersebut memiliki nama berbeda, tetapi ditemukan kesamaan dalam pola penentuan jadwal dengan berbasis perubahan alam seperti bulan, matahari, bintang, dan cuaca. Kenyataan ini menggedor kesadaran kita bahwa ilmu pengetahuan sudah berkembang pesat sebelum ada sistem pendidikan modern seperti yang kita kenal sekarang, selain mengingatkan kembali bahwa masyarakat Nusantara yang kini kita kenal dengan entitas Indonesia, memiliki kesamaan tradisi dan budaya jauh sebelum kesadaran tentang kebangsaan lahir.
Dalam program Modul Nusantara yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, mahasiswa juga menemukan fakta beberapa tradisi masyarakat, permainan anak-anak yang memiliki unsur edukasi, serta makanan, memiliki kesamaan meski dengan nama berbeda. Kenyataan ini memperkuat tali kebangsaan di kalangan mahasiswa sehingga program yang sudah memasuki gelombang keempat tersebut, patut dilanjutkan meski ke depan ada perubahan politik di Indonesia.
Beberapa tradisi tersebut ada yang masih lestari hingga sekarang, tetapi tak sedikit yang sudah punah digerus zaman.
Pengembangan ilmu pengetahuan Nusantara yang dekat dengan alam tersebut tidak hanya bisa ditemukan dalam kegiatan sosial, ekonomi, dan ibadah. Dalam kegiatan seni budaya pun, bisa ditemukan banyak ketangguhan daya cipta masyarakat tradisional dengan menggali kekayaan alam dan lingkungan. Kedekatan dengan alam melahirkan banyak gagasan yang dituangkan dalam berbagai karya, seperti pola membatik pada masyarakat Jawa dan suku lainnya di Nusantara (hal.73).
Batik dinilai penulis buku ini menjadi salah satu media untuk meninggalkan pesan dan mengungkapkan perasaan. Warga Nusantara berupaya menggali gagasan dari alam untuk dijadikan motif batik, seperti pola bintang dan bunga tanjung di motif truntum, proses terbang sayap burung pada motif sawat, dan masih banyak lagi. Adanya pola yang disebut penulis “geomatri fraktal” yang aneh membuat pemindahan pola simetris tersebut secara manual menjadi tidak mudah.
Perjalanan ilmu pengetahuan warga Nusantara menyentuh berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam biologis, kesehatan, arsitektur, musik, dan kuliner. Jauh sebelum alat inkubator yang dikenal sekarang, masyarakat Aceh menggunakan air hangat yang mereka tempatkan di sisi kiri dan kanan bayi prematur karena belum memiliki jaringan lemak untuk mengatur suhu tubuh dengan baik. Dalam mengolah warna, masyarakat di Jawa dan daerah lainnya di Nusantara, menggunakan pewarna alamiah dari tumbuhan dan tanah. Tradisi itu pun masih lestari sampai sekarang di saat gagasan kembali ke alam kian mengemuka.
Dalam bidang kesehatan dan kuliner juga demikian. Masyarakat tradisional sudah memiliki pengetahuan untuk obat-obatan yang mereka dapatkan dari alam. Tidak penting istilah ilmiah tentang tanaman obat-obatan tersebut dan bagaimana cara kerjanya secara lengkap, yang penting bisa mengurangi dan menyembuhkan penyakit. Perkembangan teknologi dan penelitian bertahun-tahun yang kemudian bisa menjelaskan kandungan kimiawi tanaman tertentu, khasiatnya bagi kesehatan, serta dampak pemakaiannya. Lalu obat-obatan tersebut diproduksi secara massal, memikili nama, dan akibatnya tidak bisa diperoleh lagi secara percuma karena sudah menjadi bagian dari sistem perdagangan.
Salah satu puncak kecerdasan masyarakat Nusantara dalam bidang arsitektur bisa dilihat di candi Borobudur yang juga dikupas lumayan panjang dalam buku ini. Struktur bangunan yang kokoh dan simetris berukuran 123 meter di setiap sisinya, pesan-pesan yang terkadung dalam 2.672 panel relief dengan 504 arca Buddha, membuktikan kecerdasan masyarakat pada masa itu.
Fakta geometris
Rumah-rumah tradisional masyarakat Nusantara juga melambangkan pengetahuan luas bukan saja menyangkut dunia arsitektur, tetapi sosial dan budaya. Beberapa rumah dibangun tanpa menggunakan paku, dengan struktur yang indah, sekaligus aman terhadap bencana alam dan gangguan binatang buas. Menarik diteliti mengapa bangunan itu masih tegak berdiri setelah ratusan tahun meski bencana alam seperti gempa datang silih berganti.
Pengetahuan Nusantara itu, di antaranya terkikis dalam lembaran masa, selain gempuran budaya asing sering dituding ikut memberangus kekayaan tersebut. Eksplorasi alam yang berorientasi keuntungan menghilangkan nilai kearifan dalam pemanfaatan pengetahuan demi kesejahteraan manusia. Ironisnya, kebijakan pemerintah yang mirip pendekatan niaga mempercepat lenyapnya pengetahuan dan budaya Nusantara tersebut—alih-alih menyelamatkannya melalui penggabungan dengan pengetahuan di era digital.
Buku Enigma Pusaka di Kepulauan Nusantara ini harusnya masuk dalam kategori referensi ilmiah dan sejarah. Keterlibatan sastrawan Kurnia Effendi dkk membuat buku ini terasa ringan bagi semua kalangan. Beberapa bagian tidak dikupas secara mendalam sehingga pembaca yang ingin memahaminya lebih luas dan lengkap, harus mencari dari sumber-sumber yang dijadikan rujukan dalam buku ini. Akhirnya, sekecil apa pun kontribusnya, buku ini bisa menjadi bagian dari upaya penyelamatan kekayaan budaya Nusantara yang harus ditindaklanjuti dalam berbagai aspek kehidupan.[]







