KENAN Evren (1917-2015) adalah presiden Turki yang ke-7. Ia memimpin kudeta militer tahun 1980, menumbangkan Süleymen Demirel, perdana menteri yang melantiknya sebagai ketua staff Jendral tahun 1977 setelah pengasingannya di Korea tahun 1950an.

Setelah peristiwa kudeta yang mengakibatkan penderitaan bagi ratusan ribu warga Turki, tepatnya tahun 1982, Kenan Evren menyambut kunjungan Suharto di Turki dengan tangan terbuka lebar. Keduanya dapat tertawa lebar layaknya teman lama seakan berada pada ‘puncak zona aman’ dengan tangan-tangan mereka yang penuh darah.

Keduanya sama-sama membunuh, menculik, mengasingkan, dan membungkam paksa lawan-lawan politiknya. Di bawah pimpinan Evren, 2 orang setiap harinya mati terbunuh karena perselisihan politik.

Sebagian pengamat politik meneriaki label pada keduanya sebagai kriminal tidak adil mengingat di bawah kekuasaan keduanya kondisi ekonomi dinegeri masing-masing juga meningkat pesat. Yah, meningkat pesat dengan hutang pada Negara-negara adidaya. Pada IMF untuk Indonesia.

Tahun 2015 bulan Juni, sebulan setelah Evren menutup usia dalam umur 97 tahun, Erdogan mencabut semua medali, pangkat, dan penghargaan-penghargaannya yang dimaksudkan untuk memulihkan luka para korban kudeta militer tahun 1980 dan menekan sisa-sisa pengaruhnya dalam tubuh kemiliteran Turki saat ini.

5 tahun sebelumnya, Evren mendapat hukuman seumur hidup atas tindakan kudeta dan imbas ide pro-militer konservatif yang dianutnya.[]Sumber:facebook/Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT)