Taufik Sentana
Peminat kajian sosial budaya.
Ini hanya sekadar reflektif, sebab bisa saja pertanyaan “kenapa” menjadi tidak pada tempatnya. Namun sebagai makhluk berfikir kita mesti dapat mempelajari setiap peristiwa dengan beberapa sudut pandang atau mengambil pelajaran bagi generasi selanjutnya.
Dari segi karekter manusia yang dinamis dan penuh gejolak, antara harapan, realita dan keinginan menyebabkan alur interaksi antar-individu atau bahkan dengan diri si individu sendiri akan memunculkan koflik. Dari konflik yang kecil, seperti stress, hingga pada konflik komunal yang luas. Kita tidak ingin terjebak pada dialektika konflik sebagai takdir, ia hanya bagian dari respon kita yang tidak memenuhi ruangnya. Seperti ruang dialog, kebersamaan dan komitmen.
Ajaran keilahian, menggaris-bawahi bahwa menginisiasi penghindaran konflik atau menyelesaikan konflik antarindividu misalnya, bagian dari kebaikan yang utama. Individu dan masyarakat yang terhindar dari konflik dijamin dengan label ” Turhamuun”, Diberi Rahmat OlehNya.
Ini menandakan bahwa konflik tidak semata menjadi urusan yang berkonflik saja, tapi menjadi tanggung-jawab semua rangkai pranata sosial kita. Dari sini kita mungkin mulai dapat mencerna bahwa secara sosial, konflik bisa saja muncul karena adanya sistem nilai masyarakat kita yang tidak berjalan dengan baik.
Pun bila sekiranya ada faktor luar yang memunculkan koflik tersebut, maka masyarakat dengan komponen hirarkinya akan dapat mengantisipasi dengan tepat. Serta memanfaatkan kemudahan media sosial sebagai jejaring yang memungkinkan konflik itu diperkecil bukan menjadikannya lebih parah.[]


