Pada langkah awal, kita perlu menyadari dengan utuh bahwa kebahagiaan itu ada yang hakiki dan ada yang ilusi. Lalu, kebahagiaan itu merangkum semua unsur kebaikan dan ketenangan diri.
Kita juga perlu menghayati bahwa kebahagian itu pemberian Allah, Dialah yang Menyifati diriNya dengan “Yang Membuat tertawa dan Sedih”(ayat Quran).
Secara fitrawi dan ajali, Allah hanya Menginginkan kebahagiaan kita. Ketidakbahgiaan kita hanyalah reaksi dari proses negatif dari prilaku kita, atau kebaikan yang Allah sembunyikan untuk kita pelajari. Setidaknya, kita mesti menyadari bahwa diri ini tidak memiliki otoritas mutlak atas kondisi dan keadaan apapun.
Prilaku diri yang merasa telah mampu, berilmu dan terampil serta memiliki otoritas inilah yang berpeluang menghambat kebahagiaan. Sebab, kita mulai mengingkari” adanya dzat yang Maha Mengatur, Membimbing dst…
Sehingga kita seakan sulit menjadi bahagia. Atau menyangka bahwa bahagia itu sangat mahal. Padahal sebelum kita menjadi orang*, (berfikir bekerja, mapan dan berhasil), 23 tahun sebelumnya, atau di saat saat kecil/remaja kita, rasa bahagia itu sederhana saja. Cukup dengan hal hal kecil yang Allah sediakan secara gratis, dan hal hal itu terus ada sebenarnya, cuma kita kita tidak memandangnya lagi sebagai pemantik bahagia.
Hanya Allah lah yang benar benar Tahu dengan apa kita bahagia. Kita hanya mengikuti jalanNya, menyesuaikan diri dengan batasan usaha kita yang Dia titipkan dengan QudrahNya.[]
*Pegiat literasi dakwah,
dalam catatan (Buku) “Bahagia setiap Saat”.
Sebagian referensi dikutip bebas dari kanal Gus Baha, Santi Gayeng,2020.



