Ramadhan memiliki rentetan kenangan sendiri di benak setiap muslim. Ramadhan memadukan sejarah, spiritual, individu dan komunitasnya. Belakangan, Ramadhan juga dikaitkan dengan daya beli dan budaya konsumsi kita, termasuk konsumsi hiburan di televisi (yang condong melalaikan waktu bagi si yang berpuasa, dari sahur hingga jelang berbuka).

Maka berangkat dari judul kecil di atas, setiap kita memiliki ruang bahagia yang berbeda tentang kehadiran Ramadhan. Hal itu berdasarkan pengalaman dan interaksi batin seseorang dalam memaknai Ramadhan dan aspek amal di dalamnya.

Untuk itu, perlu juga kiranya kita menghadirkan rasa bahagia itu dalam menyambut Ramadhan. Agar kehadirannya turut mewarnai perspektif dan orientasi hidup kita ke arah  nilai /kualitas yang lebih tinggi.

Diantara yang memantik rasa bahagia itu adalah,

Pertama, Jaminan pahala amal yang berlipat dibanding amal ibadah di luar Ramadhan. Sehingga bulan ini bisa menutup utang amal kita pada bulan sebelumnya, sambil terus berlatih untuk istiqamah dan sabar.

Kedua, Jaminan kebaikan (secara khusus) dari membaca quran dan mempelajarinya. Sebab, setiap hurufnya akan berlipat menjadi ratusan kebaikan. Dan Alquran ini pula yang menjadikan Ramadhan lebih istimewa. Maka sangat rugi bila melalui hari hari Ramadhan tanpa membaca Alquran.

Ketiga, ikatan spirtualitas langsung ke Zat Yang Maha Tinggi. Hal ini karena berpuasa merupakan ibadah rahasia antara si Hamba dan Tuhannya. Sehingga bila ikatan ini bisa terbangun, maka akan terbentuklah individu takwa, penuh tanggung jawab sosial dan dipenuhi pertolongan dari Allah.

Semoga tiga poin dasar tadi dapat memantik rasa bahagia kita untuk menyambut dan melalui Ramadhan dengan niat dan sikap yang lebih baik.[]

Taufik Sentana
Dari Ikatan Dai Indonesia, Kab. Aceh Barat.