Dalam sebuah pelatihan kepemimpinan, saya salah satu pesertanya. Kawan-kawan saya mengeluh. Sebab, menurut mereka, pemerintah tidak lagi profesional.

Gimana kita bekerja profesional, sementara pimpinan tertinggi kita dan pimpinan politik orang tidak sekolah,” seru seorang kawan.

“Ini kenyataan, toh. Mereka memang berkuasa hasil pemilu demokratis, apa kuasa kita mengubahnya?” tanya saya.

Sahabat!!!

Ada situasi yang Anda tidak mampu mengubahnya. Walaupun itu menyalahi logika umumnya. Mengeluh, kesal atau bahkan Anda tidak bisa menerimanya. Apa yang harus Anda lakukan?

Pertama, daripada Anda menyiksa diri maka jauhkan diri Anda. Cari tempat atau suasana lain yang bisa buat Anda lebih baik. Jangan siksa diri Anda untuk sebuah situasi yang menurut Anda buruk. Misalnya, jari Anda divonis amputasi. Bila tidak akan menjalar ke tangan. Maka pilihan amputasi adalah pilihan terbaik.

Atau Anda tak mungkin pergi dari kenyataan ini. Misalnya, di sini sumber penghidupan Anda. Masa depan karir Anda. Maka terimalah dengan tulus. Belajar menyesuaikan diri. Pahami situasi sebagai sebuah takdir. 

Misalnya, akibat kecelakaan Anda menjadi pincang. Maka buat apa menangisi kepincangan itu? Belajarlah berjalan dengan kepincangan. Toh, Anda masih hidup dan dapat berjalan.

Hidup tidak akan pernah tanpa masalah. Walaupun Anda lahir sebagai anak raja. Kesal, marah, benci dan mengutuk hanya membuat Anda tak nyaman. Padahal, rasa tidak nyaman menyakiti diri Anda sendiri.

Kesal, marah, benci dll., tidak akan mengubah apapun di luar Anda. Hanya Andalah penerima akibat utama dari rasa itu. Dan Anda menyiksa diri Anda disebabkan rasa yang Anda ciptakan sendiri.

Masih mau menyiksa diri? Atau Anda menikmati sebagai bagian dari sebuah dinamika hidup.

Kesempurnaan hanya milik Tuhan. Yang namanya manusia dan dunia tidak pernah ada kesempurnaan.[]