Senin, Juli 15, 2024

Peringati Hari Bhakti Adhyaksa...

BLANGKEJEREN - Kejaksaan Negeri Kabupaten Gayo Lues kembali menggelar bakti sosial (Baksos) dan...

Kapolres Aceh Utara AKBP...

LHOKSUKON - AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., kini resmi mengemban jabatan Kapolres...

Temuan BPK Tahun 2023...

BLANGKEJERN - Badan Pemeriksa Keungan (BPK) Perwakilan Aceh menemukan kelebihan pembayaran pada anggaran...

Pj Bupati Aceh Utara...

ACEH UTARA - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menerbitkan surat keputusan (SK) tentang...
BerandaKepala Museum Bangga...

Kepala Museum Bangga Rumoh Aceh Masuk Nominasi Kompetisi Pariwisata Halal

BANDA ACEH – Kepala UPTD Museum Aceh, Junaidah, mengaku bangga Rumoh Aceh yang berada di kompleks Museum Aceh menjadi salah satu destinasi yang menjadi nominator di Kompetisi Pariwisata Halal Nasional 2016.

Rumoh Aceh menjadi salah satu dari empat destinasi yang masuk dalam Kategori Daya Tarik Wisata Terbaik dari 15 nominasi di KPHN 2016.

Provinsi Aceh sebagai salah satu peserta menjadi nominator di empat kategori yaitu Kategori Airport Ramah Wisatawan Muslim Terbaik, Kategori Hotel Keluarga Ramah Wisatawan Muslim Terbaik, Kategori Destinasi Budaya Ramah Wisatawan Muslim Terbaik dan Kategori Daya Tarik Wisata Terbaik.

“Alhamdulillah kami sangat senang Rumoh Aceh terpilih sebagai salah satu nominasi dalam kompetisi ini, semoga masyarakat memilih Rumoh Aceh sebagai tujuan wisata terbaik di Aceh,” ujarnya, Kamis, 8 September 2016.

Selaku pengelola Museum Aceh, Junaidah mengatakan pihaknya akan terus berbenah untuk memaksimalkan pelayanan di Museum Aceh kepada wisatawan. “Mohon dukungannya dan jangan lupa vote Aceh, voting online masih berlangsung hingga 15 September,” katanya.

Ia juga mengatakan, masyarakat yang ingin menjagokan Aceh di ajang ini bisa memberikan suaranya di atau halaltourism.id.

Partisipasi Aceh di ajang ini katanya menjadi momentum untuk meningkatkan citra positif Aceh. Ia juga mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk mempersiapkan diri demi menyukseskan program wisata halal ini. (Baca: Apa Itu Wisata Halal?)

Rumoh Aceh yang berada di Kompleks Museum Aceh ini merupakan buatan Belanda yang dibuat pada 1913. Awalnya rumah ini digunakan untuk menyimpan benda-benda bersejarah koleksi Belanda. Hal ini terlihat dari ornamen ukirannya yang berbentuk hati dan tambah. Tidak mencerminkan motif khas Aceh yang lazimnya bermotif bunga jeumpa atau pucuk rebung.

Rumoh Aceh ini juga sempat diboyong ke Semarang pada 1934 untuk dilombakan di Gelanggang Pameran. Waktu itu Rumoh Aceh mendapatkan empat medali emas, 11 perak dan tiga perunggu. Inilah yang mendasari Gubernur Aceh yang ketika itu dijabat H. N. A Swart mengusulkan agar Rumoh Aceh ini dijadikan Museum, yang diresmikan pada 31 Juli 1915. Sebelum itu Rumoh Aceh ini terletak di Blang Padang.

Rumoh Aceh yang berada di Kompleks Museum ini memiliki tiga serambi atau seuramoe. Pertama serambi depan atau seuramoe keu, berfungsi sebagai tempat untuk shalat berjamaah, atau untuk menerima tamu dan melakukan musyawarah keluarga. Di bagiang didindingnya kita akan melihat lukisan besar enam orang pahlawan nasional Aceh yang sangat terkenal yaitu Sultan Iskandar Muda, Teuku Nyak Arief, Teungku Chik Di Tiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia.

Seramoe teungoh atau serambi tengah digunakan sebagai kamar tidur, umumnya ada dua kamar tidur yang digunakan untuk orang tua dan anak perempuan. Dalam tradisi Acehanak lelaki yang sudah dewasa umumnya tidur di meunasah, jadi mereka tidak disediakan kamar khusus.

Yang terakhir adalah seramoe likot, atau serambi belakang yang terdiri dari dapur dan ruang produksi. Di serambi ini lah para perempuan Aceh lebih banyak menghabiskan waktunya. Entah untuk memasak, menindurkan anak, atau untuk menganyam tikar, dan membuat reungkan. Tak heran bila di serambi ini kita akan melihat ada tempat tidur kecil dan sebuah ayunan.

Dapur terletak di bagian timur serambi belakang, alasannya jika pemilik rumah melakukan ritual shalat maka mereka tidak menghadap ke dapur. Posisi dapur yang menghadap ke timur juga memberikan kemudahan untuk  ventilasi, karena asap yang bersumber dari kayubakar bisa leluasa ke luar dari jendela dapur akibat hembusan dari angin barat yang biasanya lebih kencang dari angin timur.

Pengaruh geografis ini juga yang diterapkan dalam membangun Rumoh Aceh, yaitu dengan menghadap ke arah matahari terbit untuk mencegah hal-hal buruk yang disebabkan oleh pengaruh angin barat.[](ihn)

Baca juga: