ACEH BESAR – Peneliti muda Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh melakukan penelitian terkait nilai mitigasi bencana pada arsitektur Rumoh (Rumah) Aceh di Gampong Lubuk Sukon, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar. Gampong itu dipilih menjadi lokasi penelitian lantaran memiliki banyak bangunan adat Aceh sehingga dikenal sebagai desa wisata kebudayaan Aceh. Hasil riset tersebut, tim peneliti menyatakan siap mempromosikan Lubuk Sukon sebagai destinasi wisata edukatif di Aceh.

Untuk diketahui, tim peneliti muda itu memenangkan Program Kreativitas Mahasiswa kategori Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH). Diketuai Nauma Laila dari Program Studi Pendidikan Geografi USK, tim tersebut terdiri dari empat anggota lintas jurusan, yaitu Nabilla Maharani, Naifa Azzahra, Kania Egidia, dan Nazwa Musyada.

Dalam penelitian melalui bimbingan Dr. Cut Dewi, S.T., M.T., M.Sc., mereka mengangkat judul “Pengaruh Modernisasi Rumoh Aceh Terhadap Kearifan Lokal Nilai Mitigasi Bencana yang Melekat pada Arsitektur Rumoh Aceh Tradisional”.

Ketua Tim PKM-RSH Rumoh Aceh, Nauma Laila, mengatakan riset ini berangkat dari fenomena modernisasi yang terjadi di semua lini kehidupan. Modernisasi juga telah memengaruhi sosial budaya masyarakat Aceh. Saat ini sulit menemukan Rumoh Aceh yang masih tradisional karena sudah dimodifikasi mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan pemiliknya.

“Padahal, Rumoh Aceh dengan arsitektur tradisional memiliki nilai mitigasi bencana, mengingat Aceh terletak di daerah yang rawan mengalami bencana alam. Rumoh Aceh sejatinya terbentuk dari adaptasi masyarakat dengan lingkungan tempat tinggalnya,” kata Nauma Laila dalam keterangan tertulis diterima portalsatu.com/, Sabtu, 3 Agustus 2024.

Nauma Laila menjelaskan sejak 200 tahun lalu, Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI) pada tahun 2015 mencatat sebanyak 454 bencana telah terjadi di Aceh, tiga di antaranya wabah penyakit. “Melihat fenomena dan track record tersebut, tim ingin melihat lebih jauh alasan di balik modifikasi Rumoh Aceh dan dampaknya terhadap nilai mitigasi bencana yang sebelumnya ada,” ujarnya.

Menurut Nauma, sebanyak 10 Rumoh Aceh di Gampong Lubuk Sukon dijadikan sebagai objek dalam penelitian ini. Untuk mendapatkan data valid, penelitian kualitatif-deskriptif ini menggunakan metode triangulasi yang terdiri dari kajian literatur, observasi, dan wawancara.

“Selain melakukan pengamatan terhadap Rumoh Aceh, pemilik juga dijadikan sebagai narasumber untuk mendapatkan informasi lebih jelas mengenai objek. Adapun narasumber ahli berasal dari background yang berbeda, yaitu ahli arsitektur, ahli struktur bangunan, dan ahli kearifan lokal Rumoh Aceh,” tuturnya.

Temuan tim menunjukkan bahwa modifikasi yang paling banyak terjadi adalah penambahan ruang beton di bagian belakang atau bawah Rumoh Aceh. Hal ini dikarenakan faktor kebutuhan ruang dan kemudahan akses. Umumnya masyarakat yang memiliki Rumoh Aceh adalah warga sudah lanjut usia (lansia) atau keturunannya yang merupakan pewaris, sehingga penghuni Rumoh Aceh terdiri dari beberapa generasi.

“Selain itu, kemudahan beraktivitas juga menjadi alasan karena pemiliknya yang mengalami kesulitan untuk naik turun Rumoh Aceh. Bentuk modifikasi lain adalah penggantian material. Material Rumoh Aceh yang berasal dari alam seperti kayu dan daun rumbia juga terbilang cukup mahal sehingga masyarakat memilih mengganti penggunaan material tersebut,” ungkap Nauma.

Dalam kajian ini juga membahas mengenai dampak dari modifikasi Rumoh Aceh terhadap nilai kebencanaan. Dampak tersebut kemudian dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama, tidak memiliki pengaruh apapun. Kedua, mengurangi nilai mitigasi. Ketiga, mampu menambah nilai mitigasi.

Pada kelompok pertama, meskipun tidak berpengaruh tetapi elemen modifikasi dalam kelompok ini berupa tiang dan lantai dapat memengaruhi kekokohan bangunan. “Selain itu, tidak berpengaruhnya modifikasi juga dikarenakan adanya penyesuaian dengan elemen modifikasi lain,” ucap Nauma.

Kelompok kedua, modifikasi yang mengurangi nilai mitigasi bencana terdapat pada elemen penambahan ruang. “Meskipun tidak signifikan, tetapi tambahan ruang akan membuat tiang dan tembok saling berbenturan ketika gempa terjadi,” ungkapnya.

Sedangkan perubahan penggantian kulah bak ie atau guci air menjadi keran air, kata Nauma, dapat menambah nilai mitigasi bencana. Hal ini dikarenakan melalui penggunaan kulah, maka air yang digunakan akan lebih higienis lantaran merupakan air yang mengalir.

“Sejauh ini, belum ada penelitian yang menggabungkan pengaruh modernisasi terhadap nilai mitigasi bencana yang terdapat dalam arsitektur Rumoh Aceh. Oleh karena itu, penelitian dan kajian mengenai hal tersebut menjadi topik baru yang dapat dipelajari lebih lanjut,” ujar Nauma.

Sebelumnya, Tim PKM-RSH Rumoh Aceh harus terlebih dahulu melewati proses seleksi hingga akhirnya berhasil mendapatkan pendanaan dari penyelenggara yaitu Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Melalui pendanaan tersebut, Tim Rumoh Aceh berhasil menyelesaikan penelitian sampai dengan menulis artikel ilmiah.

“Temuan tersebut tidak hanya ditulis dalam bentuk artikel, tetapi juga dikemas lebih interaktif. Sampai saat ini tim telah membuat buku pop up dan booklet berisi keunikan Aceh dan rumoh adatnya serta memuat hasil kajian mereka. Untuk membantu mempromosikan Lubuk Sukon sebagai desa wisata edukatif, tim juga menyiapkan leaflet yang berisi objek-objek Rumoh Aceh di gampong itu dan fakta menarik lainnya,” ujar Nauma.

Kajian dilakukan Tim Rumoh Aceh ini telah mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salah satu yang menyatakan dukungannya adalah LSM Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A). Sebagai lembaga training dan edukasi, GEN-A juga menyatakan keinginan untuk menjadikan hasil kajian sebagai materi dalam kegiatannya.

Selain itu, diseminasi yang dilakukan kepada sejumlah instansi, di antaranya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Museum Aceh, dan Majelis Adat Aceh juga memberikan apresiasi terhadap kajian ini. Rencananya pada Agustus 2024 diselenggarakan seminar bertema “Muda Bicara Budaya dan Bencana Aceh” yang menghadirkan tiga narasumber dengan topik berbeda.

Acara kolaborasi antara Tim Rumoh Aceh, GEN-A dan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) USK ini diadakan dalam rangka memperingati 20 Tahun Tsunami Aceh. “Tim berharap upaya menyebarkan informasi Rumoh Aceh dan temuannya melalui media yang beragam mampu menjangkau banyak kalangan khususnya pemuda dan pemudi Aceh,” pungkas Nauma Laila.[](nsy)