SIMEULUE – Puluhan kerbau milik warga di Kabupaten Simeulue, dalam beberapa pekan terakhir diserang wabah penyakit ngorok atau Septicaemia Epizootica (SE).
Pihak Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Kabupaten Simeulue telah berupaya mengendalikan penyebaran penyakit menular yang menyerang kerbau milik warga di Kecamatan Simeulue Tengah.
“Untuk saat ini ada 20 ekor ternak kerbau yang diserang penyakit ngoro atau SE, 12 ekor yang mati dan 8 ekor sempat dipotong. Dan petugas kita sedang dilapangan dan berjuang mengobati ternak kerbau baik yang sakit maupun yang belum sakit, sebab rata-rata ternak kerbau warga kita tidak dikandangkan, sehingga butuh tenaga ekstra,” kata Hasrat, S.P., Kepala Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Kabupaten Simeulue kepada portalsatu.com, Jumat, 31 Januari 2020.
Menurut Hasrat, penyakit SE itu rentan sangat cepat berpindah, menyerang dan menular kepada kerbau yang belum terinfeksi, terutama ternak tidak dikandangkan ?atau dibiarkan hidup liar oleh pemiliknya. Oleh karena itu, ia meminta para pemilik ternak besar di Kabupaten Simeulue untuk mengandangkan kerbau atau sapinya supaya terhindar dan selamat dari wabah penyakit SE.
“Solusinya supaya selamat dan tidak terserang wabah penyakit SE, para pemilik ternak harus mengandangkan ternak kerbau atu sapinya dan tidak dibiarkan hidup liar. Ternak yang diserang penyakit SE dan sempat dipotong itu, masih aman untuk dikonsumsi, namun setelah dipotong darahnya harus zero atau nol dari dalam tubuhnya,” imbuh Hasrat.
Dia merincikan, saat ini populasi kerbau tersebar di 10 kecamatan dalam Kabupaten Simeulue mencapai 28.000 ekor. Dua tahun lalu, populasi ternak kerbau pernah turun dratis hingga pada angka 10.000 ekor, setelah diserang wabah penyakit SE.[]
Penulis: Egar Shabara



