Rabu, Juli 24, 2024

Tinjau Venue PON XII,...

SIGLI - Pemerintah Kabupaten Pidie meminta rekanan terus memacu pekerjaan tiga venue yang...

Wali Nanggroe dan Mualem...

JAKARTA – Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar...

Balai Syura: Perempuan Aceh...

BANDA ACEH - Balai Syura Ureung Inong Aceh dan seluruh elemen gerakan perempuan...

Pemko Subulussalam dan Pemkab...

SUBULUSSALAM - Pemerintah Kota (Pemko) Subulussalam menjalin kerja sama atau MoU dengan Pemerintah...
BerandaNewsKesederhanaan Umar bin...

Kesederhanaan Umar bin Abdul Aziz

Suatu hari, jamaah shalat Jumat gelisah menunggu khatib yang belum kunjung tiba, padahal waktunya sebentar lagi. Akhirnya, salah seorang jamaah menyusul sang khatib yang tidak lain adalah Khalifah Umar bin Abdul Azis. Sesampainya di rumah khalifah, ia kaget, ternyata sang khalifah masih duduk di teras rumahnya. 

''Khalifah, apa yang sedang engkau lakukan?'' ujarnya. 

Umar menjawab, ''Saya sedang menanti kainku yang dicuci dan belum kering untuk dipakai berkhutbah.''

''Kain apakah itu?'' tanyanya lagi. 

''Baju gamis, sarung, dan selendang yang harganya 14 dirham,'' ujar Umar.

Kisah di atas menggambarkan betapa sederhananya Umar bin Abdul Azis. Meskipun sebagai khalifah, ia tidak hidup bermegah-megahan. Sepanjang hidup sebagai khalifah, ia dedikasikan segenap kemampuan dan hartanya untuk kemajuan dan kemakmuran rakyatnya. Bahkan, ketika meninggal ia hanya menyisakan warisan sebesar 10 dinar.

Teladan yang diberikan Umar bin Abdul Azis sebagai pemimpin seharusnya dijadikan acuan dan pelajaran berharga bagi setiap umat Islam untuk dipraktikkan, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, atau bangsa sekalipun.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, sedikitnya ada dua hal yang menyebabkan kesederhanaan seorang pemimpin menjadi kesuksesan dalam mengemban amanah rakyat.

Pertama, sikap sederhananya menyebabkan seorang pemimpin berhati-hati dalam setiap harta yang diperolehnya. Ia tidak rakus dan tidak korup. Ia lebih memikirkan 'perut' rakyatnya dibandingkan 'perut' diri dan keluarganya. Ia lebih mudah memahami kesulitan yang dirasakan rakyatnya. Sehingga, waktunya banyak dihabiskan untuk bekerja keras agar rakyatnya makmur dan sejahtera.

Kedua, kesederhanaannya menyebabkan pemimpin tersebut dicintai rakyatnya. Rakyat bersamanya bahu-membahu untuk mewujudkna cita-cita bersama menuju kesejahteraan. Rakyat pun tak segan-segan untuk mengoreksinya jika ia melakukan kesalahan.

Bahkan, kesederhanaannya pun menyebabkan ia dicintai Allah, hingga pertolongan dan keberkahan dari Allah diraihnya. Dalam kaitan ini Rasulullah SAW menjelaskan, ''Sederhanakanlah engkau akan dunia, pasti Allah mencintai engkau. Dan, sederhanakanlah engkau akan apa yang ada pada manusia, pasti manusia mencintai engkau.'' (HR Ibnu Majah). | sumber : republika

Baca juga: