Hakikat keabadian hanya dapat ditangkap saat kita mengenal makna kesementaraan. Sebagaimana kita mengenal cahaya karena kita bisa melihat pekatnya kegelapan.

Sebagian besar kita lupa, karena watak lupa itu melekat pada diri manusia, kita lupa mengenali kesementaraan itu. Lupa karena kesenangan dan kelapangan sama sama menyibukkan kita. Kita menakar Adil Ilahi dengan timbangan susah dan senang, atau kaya dan miskin. Padahal, lapang dan sempit hanyalah mata ujian dalam kesementaraan.

Bahkan banyak yang menyangka bahwa sabar itu hanya saat musibah,itulah lazimnya. Padahal sabar itu melekat di setiap kondisi, dalam sakit ataupun sehat, tentu dengan aktivasi yang berbeda.

Semakin kemilau dan gemerlap capaian manusia, semakin mudah  ia lupa akan kesementaraan itu. Bahkan, seakan ia mampu menghentikan kesementaraan tadi. Artinya ia merasa akan terus ada. Ia merasa yang ia jalani sekarang akan menutup pintu kesementaraan.

Padahal kesementaraan menjadi latihan kecil untuk sampai pada keabadian.Yaitu  dengan keyakinan, amalan dan prinsip. Maka pemahaman kita yang utuh tentang kesementaraan akan membuat kita insyaf, sadar, bahwa semua akan menjadi bekas dan ditinggalkan.

Semua “bekas” itu akan menjadi lembaran yang akan dibentangkan guna menakar, apakah ia menjadi amal manfaat atau kesiaan belaka.[]

Taufik Sentana
Dalam catatan “Bahagia setiap Saat”, 2019.