Suatu ketika saya iseng mengajar kelas 3 sebuah SMP pesisir. Semua meja siswa dan dinding dominan warna putih stipo/tippex. Aneka coretan sewarna. Dan banyak sobekan buku dilantai.

“Ini coretan putih kalian pakai apa?” tanya saya.

Stipo, pak” jawab para siswa.

“Pasti stipo kalian beli dari uang pemberian orang tua,” tegas saya. 

Mereka terdiam sunyi.

Sejurus kemudian saya minta mereka semua menutup mata rapat-rapat. Saya minta membayangkan pekerjaan orang tua mereka. Di mana orang tua mereka sekarang. 

“Bayangkan susahnya orang tua kalian cari uang bekerja, tapi kalian malah menghabiskan untuk yang begini. Bukankah kalian sedang menganiaya orang tuamu,” ucap saya. 

Mereka umumnya tergolong keluarga sederhana atau miskin.

Beberapa kalimat menyentuh lain saya cerca mereka. Hasilnya mulai ada yang menangis dan bermata sembab. Ketika saya suruh mereka buka mata, umumnya mereka berwajah sedih.

Sahabat!!!

Kita sering lupa ada hal-hal kecil yang tanpa kita sadari. Sering sekali kita kehilangan daya nalar. Kita lupa sebuah hakikat. Sehingga kesia-siaan menjadi lumrah.

Membuang waktu percuma. Lupa pada kebaikan. Lupa pada luasnya nikmat tuhan. Dan kesia-siaan itu merugikan kita, orang lain, bahkan lingkungan. Misalnya, membuang sampah sembarangan.

Dalam bekerja juga kita melakukan kesia-siaan. Misalnya, dalam memanfaatkan air, kertas dan materi lain. Membeli makan yang kemudian tidak habis kita makan. Banyak sekali perilaku negatif kita yang berangkat dari kealpaan pada hakikat dari perilaku itu.

Hal-hal besar dimulai dari yang kecil. Kerusakan besar dimulai dari retakan kecil. Kerugian besar selalu dimulai dari abainya gejala-gejala kecil.[]