Senin, Juli 22, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaKesiapan Pemerintah Aceh...

Kesiapan Pemerintah Aceh Hadapi Corona Buruk

BANDA ACEH – Kesiapan Pemerintah Aceh dalam menghadapi persoalan wabah virus corona dinilai sangat buruk, karena belum menyiapkan alat-alat kesehatan di rumah sakit untuk penanganan kasus corona.

Hal itu disampaikan Sekretaris Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Iskandar Usman Al-Farlaky, Jumat, 20 Maret 2020. Politikus Partai Aceh ini meminta Pemerintah Aceh agar bentindak serius, serta berhenti beretorika di media.

“Hentikan retorika. Kalau memang serius, lengkapi alat-alat kesehatan di tiap RS yang ada di Aceh. Itu jauh lebih penting dan dibutuhkan oleh masyarakat,” kata Iskandar Usman.

Sebagai contoh, kata Iskandar, stok barang atau alat kesehatan di RSU Cut Meutia Aceh Utara untuk menangani pasien yang terpapar virus corona masih sangat kurang. Padahal, RSU Cut Meutia merupakan rumah sakit rujukan di Aceh untuk penanganan pasien terpapar virus corona.

Hasil sidak pihaknya, kata Iskandar, pakaian pelindung yang bisa digunakan perawat di RSU Cut Meutia hanya 20 unit. Sedangkan masker N.95 5 bok, masker bedah 150 bok serta fentilator 1.

“Bayangkan untuk menangani 1 pasien positif Covid-19 membutuhkan 15 pakaian pelindung perhari. Berarti dengan jumlah baju pelindung hanya segitu, apakah dokter dan perawat mau masuk ke ruang isolasi apabila ada pasien? Andai ada datang yang positif, apa yang terjadi? Ditambah bok pengiriman spesimen sampai saat ini belum ada. Andai ada yang positif sudah mati pun kita belum tahu,” ungkapnya.

Iskandar menambahkan, apabila hal seperti itu dialami oleh rumah sakit  rujukan, rumah sakit lain tentu lebih tidak siap lagi. Bahkan di RS Datu Beru petugas medis terpaksa memodifikasi jas hujan sebagai pelindung karena APD minim.

“Inikan kondisi yang cukup meresahkan. Eksekutif Aceh harus bertanggung jawab jika nantinya kondisi tak diharapkan terjadi di Aceh dan para medis kita jadi korban,” tegasnya.

Iskandar mengaku sudah mewanti-wanti hal yang sama sejak Komisi V DPRA sidak ke RSUZA Banda Aceh sebulan lalu, dan kemudian disusul sidak kedua dan turun ke sejumlah rumah sakit lainnya di kabupaten/kota.

“Nyatanya eksekutif masih tak memenuhi kekurangan alat medis yang jadi temuan di lapangan. Lantas apa kerja mereka? Apakah perlu ada korban dulu baru kemudian panik massal? Kami meminta alat-alat kebutuhan medis segera didistribusikan. Ini untuk keselamatan para pekerja medis di rumah sakit,” pungkasnya.[Khairul]

Baca juga: