Oleh Taufik Sentana*

Berapa banyak orang yang sibuk di dunia dan membuatnya dikenal oleh penduduk bumi tapi mereka tak dikenal oleh penduduk langit” (Sabda Nabi).

Pernahkah kita merasa perlu belajar bernapas yang benar? Hingga kita merasa betapa berharganya napas dan menikmati setiap helaannya. Hanya, di zaman yang serba cepat dan penuh tekanan seperti sekarang ini menyebabkan setiap orang merasa disibukkan: tak ada waktu untuk sekadar “menikmati setiap tarikan napas atau hal-hal kecil” lainnya.

Sehingga orang-orang yang sibuk terkadang dianggap telah berhasil menyiasati waktu dan memanfaatkan hidupnya. Sebagian lain, mungkin sengaja membiarkan waktunya hilang percuma dengan kesibukan yang tak produktif.

“Sibuk” menjadi bahasa kemoderenan dan bahasa keberhasilan kita. Walau kesibukan itu sendiri bisa berpeluang menjadi pemicu stres dan bahkan penyakit. Sering kita mendengarkan atau menyaksikan sendiri betapa sibuknya seseorang hingga waktunya terasa tak cukup. Memang, semua kita memiliki waktu yang terbatas, dan waktu tak akan pernah cukup untuk menampung semua kesibukan kita.

Kesibukan dalam arti umum sebagai usaha dan aktivitas yang dilakukan dalam waktu tertentu. Di sini diketahui bahwa kesibukan membutuhkan energi, baik fisik, intelek atau emosional-spiritual. Bila kesibukan yang rutin dijalani tanpa pertimbangan ulang dari segi makna dan kualitasnya, tentu kesibukan itu hanya menghabiskan energi dan menguras emosi kita.

Realitas tersebut menjadi penyebab tidak munculnya kebahagiaan dan hilangnya makna hidup itu sendiri, maka terbitlah rasa bosan dan semacamnya. Sikap ini bila tak disiasati akan memburuk kinerja dan sikap sosial si individu.

Stephen Covey, pernah menyebutkan bahwa kesibukan yang Anda lakukan hendaknya bertujuan, memiliki visi dan kesadaran saat melakukannya, sehingga tidak hanya mendatangkan keuntungan materiil tapi juga perasaan bermakna dan bahagia.

Berkaitan dengan ini, benarlah Sabda Nabi bahwa “Di antara kebaikan seorang Muslim ialah dengan meninggalkan hal-hal yang tidak mendatangkan makna atau kesia-siaan“.

Maka sangat relevan apa yang disampaikan dalam Alquran: “Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang melalaikan“.

Prinsip di atas perlu kita hayati, karena bisa saja kita merasa bahagia dan bermakna dengan kesibukan kita, tapi justru melalaikan kita dari hal-hal utama yang lebih tinggi dan bernilai abadi.

Adakah kesibukan yang terpuji?

Untuk maksud ini, ada catatan yang baik dari seorang tokoh sufistik ternama, Alghazali. Ia menyarankan tiga prioritas dalam keseharian kita yang tidak boleh diabaikan. Keterangan ini disebutkan dalam kitabnya Bidayatul-Hidayah
(Awal Munculnya Aidayah)

Yaitu, pertama, kesibukan dalam menuntut ilmu:
Meskipun kita sudah bekerja secara formal, hendaklah aktivitas ini tetap terprogram dalam keseharian kita. Bisa dilakukan dengan membaca buku bermutu, atau sekadar membaca potongan ayat Alquran dan hadis beserta artinya. Bisa pula dengan mendengar atau bertanya langsung dari seorang yang berilmu di bidangnya. Terutama ilmu yang membangun pemahaman Islam secara utuh untuk perbaikan diri dan masyarakat.

Kedua, sibuk bekerja dan beramal sosial:
Inilah kesibukan yang umum dilakukan, kesibukan dalam mencari rezeki, memenuhi kewajiban (walau sekadar mengumpul kayu bakar di hutan untuk dijual di pasar), membantu dan meringankan beban orang lain. Minimal kita sempat mendoakan sesama saudara Muslim lainnya dan mendoakan bagi kebaikan masyarakat secara umum.

Ketiga, kesibukan untuk ibadah.
Seorang yang memahami fungsi diri dan sosialnya tentu akan mengkhususkan waktunya untuk beribadah secara mahdhah, menjaga setiap kewajiban agama serta berupaya menambah amalan-amalan sunah. Sehingga sela ibadah yang disediakan oleh Allah terkelola dengan baik dan menjadi penambah berkah dari waktu-waktu yang dihabiskan. Apalagi bila kita dapat menyatukan diri dengan niat ibadah untuk setiap kebaikan yang dilakukan.

Dari tiga usulan Alghazali tadi, dapat kiranya membantu kita dalam menjadikan kesibukan hari-hari sebagai kesibukan yang terpuji, kesibukan yang dikenal oleh kerajaan langit. Insya Allah.[]

*Taufik Sentana,
dari Ikatan Dai Indonesia, Aceh Barat.
Sedang mengembangkan program layanan pengembangan SDM untuk komunitas.