Pendiri Komunitas Kanot Bu sekaligus seniman mural, Idrus Bin Harun, turut berpartisipasi dalam Jakarta Biennale 2015, di Gudang Sarinah, Pancoran, Jakarta Selatan, yang masih digelar sampai 9 Januari 2016. Seniman kelahiran Pidie Jaya itu dinilai bersinar lewat karya seni ‘Menolak Jawai’.
Melansir detikHOT.com, Senin, 4 Januari 2016, sepanjang 2015, seniman-seniman Tanah Air yang berbakat unjuk gigi dalam berkarya. Tak hanya berkarier di dalam negeri, banyak di antaranya yang juga mengikuti residensi di luar negeri serta berhasil memenangkan kompetisi seni bergengsi internasional.
detikHOT memilih 10 seniman yang paling bersinar sepanjang tahun yang baru saja berlalu. Mereka dipilih berdasarkan prestasi atas karya yang dihasilkan, dan mendapatkan pengakuan publik. Salah seorang di antaranya adalah Idrus Bin Harun.
Dikutip dari jakartabiennale.net, Idrus Bin Harun lahir pada 11 Oktober 1981 di Pidie Jaya. Pendidikan formal terakhirnya adalah Diploma II Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Idrus Bin Harun adalah salah satu pendiri Komunitas Kanot Bu, komunitas seni di Banda Aceh. Pada 2011, Idrus mendapat penghargaan juara I lomba karikatur Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dan juara II lomba poster Hak Asasi Manusia Yap Thiam Hien pada 2015.
“Menolak jawai” adalah kalimat yang kerap menjadi acuan berkarya Idrus bin Harun. Dalam bahasa Aceh, jawai digunakan untuk menjelaskan penyakit lupa yang kerap dialami para lansia—yang sering kita sebut dengan istilah ‘pikun’.
Sebagai seniman mural, karya-karya Idrus kerap mengusik ingatan masa lalu, tidak sedikit di antaranya yang bersumber dari pengalaman hidupnya dalam konflik di lingkungannya.
“Lewat karya-karyanya, Idrus ingin membawa kita menyelami pola relasi Aceh dan Jakarta pada tahun-tahun lampau. Penggunaan ikon-ikon, seperti monumen nasional, burung garuda, rencong, atau kupiah meukeutop—topi khas Aceh—kerap menjadi bahasa yang menggambarkan pola tersebut,” demikian dilansir jakartabiennale.net.
Mural Idrus berjudul Bhoneka Tinggal Luka menjadi semacam cerita perjalanan politik Aceh sejak era 1980-an. Idrus mengutak-atik gambar burung garuda dengan menambahkan beberapa objek lain, juga mempelesetkan kalimat “Bhinneka Tunggal Ika” menjadi “Bhoneka Tinggal Luka”. Menurut Idrus, “Bhoneka” adalah metafora untuk Aceh yang tidak mempunyai ruh untuk bergerak sesuai keinginan sendiri.
“Saya lebih senang menggunakan kata 'jawai' daripada menolak lupa. Tapi bukan kata 'Jawa', ini 'jawai',” tegas Idrus, seperti dikutip detikHOT.com.
“Saya menceritakan kekuasaan Indonesia dengan lambang pohon beringin. Seperti kita tahu, ada pemimpin yang berkuasa selama itu dan terjadi industrialisasi di berbagai pelosok,” ujarnya lagi.
Ibukota pun dilambangkan sebagai pemegang kekuasaan dan memiliki harta dalam bentuk Monumen Nasional (Monas). Di bagian mural berikutnya, Idrus menceritakan tentang konflik GAM dan militerisme sampai masa Referendum. Mural ini, kata dia, semacam perjalanan politik Aceh sejak era 1980-an.
“Saya mengalami sendiri peristiwa GAM dan gencatan senjatanya. Tapi banyak masyarakat sekarang yang terasa tidak ingin menceritakan tentang kejadian-kejadian itu. Maka, sejarah ini yang tidak boleh dilupakan dan saya hadirkan lagi lewat mural 'Menolak Jawai',” kata Idrus.[] (idg)




