Oleh Taufik Sentana
Bergulirnya masa rekrut untuk menjadi ASN selalu memberikan ruang kesempatan yang paling dinanti, penuh kecemasan dan persepsi sendiri. Belum banyak survei tentang motif yang mendasari menjadi ASN. Di antara yang pernah penulis telusuri, motif terbesarnya adalah jaminan hari tua, pensiun. Selebihnya, mungkin kita tahu sendiri, akses finansial yang relatif “aman”.
Kita memang selalu gamang tentang angkatan kerja ini. Negara pun tentu tidak bisa menjadikan semua lulusan universitas menjadi ASN. Negara bahkan sangat mendorong agar terbukanya peluang kerja mandiri yang profesional dan berintegritas serta berdampak bagi kemajuan negara Indonesia. Diharapkan dengan berkembangnya teknologi informasi dan era digital dapat memperluas peluang kerja mandiri yang dimaksud.
Di beberapa daerah Indonesia yang memiliki kawasan industri yang prospektif dan dinamis, akan mempersempit para pemburu kerja yang hanya fokus menjadi ASN. Mereka bisa bekerja di perusahaan-perusahaan swasta dengan tunjangan gaji yang lumayan sepadan dengan ASN. Akan tetapi, tentu target kerja, persaingan internal dan risiko dipecat sangat tinggi, bila dibanding dengan apa yang sehari-hari dihadapi oleh (umumnya) pegawai negeri.
Peran signifikan
Bagi penulis, peran signifikan kaum terpelajar (sebutan untuk kata sarjana dalam Kamus Bahasa Indonesia), tidak semata berdasarkan pada orientasi kerja sebagai pegawai negeri khususnya. Walau persepsi masyarakat masih saja menganggap ASN lebih menjanjikan, apalagi untuk menjadi calon menantu.
Peran signifikan yang penulis maksudkan adalah, kaum terpelajar, dengan usianya yang produktif, sangat dibutuhkan sebagai penyangga suatu masyarakat. Para kaum terpelajar, dengan pengalaman akademik dan organisasinya, mereka dapat secara mandiri mengembangkan program berbasis sosial kemasyarakatan, pendidikan, dan bahkan pemberdayaan ekonomi.
Di sini, penulis tidak menganggap para lulusan kampus tersebut hanya mentok sebagai “aktivis”. Akan tetapi lebih dari itu, mereka sebagai generator besar yang bisa mencahayai kaumnya. Bahkan, di beberapa negara maju, umumnya, seseorang belum dianggap terpelajar (intelektual, sarjana), bila tidak memiliki kontribusi langsung dalam perbaikan masyarakat lewat ide, karya dan program-programnya. Bahkan, seorang dosen dan guru, belum cukup intelek bila tidak menghasilkan buku dan penelitian relevan yang berdampak bagi masyarakat.
Dalam membangkitkan gairah baru kaum terpelajar ini, agar tidak selalu ASN oriented, masyarakat perlu bersikap terbuka dan lebih dinamis dalam menyikapi angkatan kerja kita yang terus bertambah dan tak sebanding dengan lapangan kerja yang tersedia.
Bagi pihak universitas dan lembaga pendidikan yang terkait, hendaknya dapat mengembangkan ruang kemandirian para calon lulusannya dalam berpikir kreatif, penemuan dan proyek pembangunan masyarakat berkelanjutan yang terintegrasi dalam kurikulum. Tentu saja kesemuanya tetap bermuara pada usaha kerja yang memungkinkan secara finansial dan mewadahi kompetensi para lulusan.
Selebihnya, perihal ketersedian lapangan kerja yang berbasis kebijakan pemerintah, entah padat karya atau sejenisnya, biarlah pemerintah yang memikirkan. Dan kaum terpelajar, nantinya bisa berburu karya (ranah kerja) yang lebih dalam dari sekadar menjadi ASN, apalagi hanya ASN yang tidak produktif secara prestasi.[]
*Taufik Sentana
Peminat kajian sosial dan pendidikan, guru swasta, bercita cita mendirikan sekolah.




