Dua kemenangan beruntun berhasil diraih Tim Nasional (Timnas) Indonesia di ajang Aceh Solidarity World Cup (ASWC). Usai menghajar Brunei Darussalam 4-0, skuat “Garuda” sukses menjungkalkan Mongolia dengan skor tipis 3-2.
Namun, terlepas dari hasil positif yang diraih skuat asuhan Luis Milla itu, tersimpan pilu. Apa itu?
Tak lain adalah kondisi lapangan di Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, yang menjadi tempat pertandingan ASWC. Ya, sejak hari pertama turnamen, kondisi lapangan sudah memprihatinkan.
Saat melawan Brunei, Sabtu (2/12/2017), pertandingan berlangsung di atas lapangan yang licin menyusul hujan deras yang turun. Karena itu pula genangan terlihat di beberapa titik dengan air bercampur aduk lumpur.
Dan, kondisi serupa–bahkan lebih parah–terjadi ketika Indonesia menghadapi Mongolia pada Senin (4/12). Hujan memang tak turun deras, tetapi kondisi lapangan yang memang sudah hancur, berubah menjadi mimpi buruk bagi para pemain.
Lapangan dari stadion hasil bantuan FIFA itu bahkan sudah nyaris tak terlihat lagi rumput hijau. Karena mayoritas permukaan lapangan tertutup rapat dengan lumpur. Jadilah, ke-22 pemain dari kedua kesebelasan mengejar bola berkubang lumpur.
Kondisi itu jelas menyulitkan pemain. Jangankan mengolah bola, untuk mengalirkannya saja butuh perjuangan ekstra. Belum harus mengantisipasi permukaan yang licin. Tak ayal, keadaan itu membahayakan keselamatan pemain.
Bek Timnas Indonesia, Gavin Kwan Adsit, menjadi korbannya. Tekel lawan pada menit ke-47 membuat penggawa Barito Putera itu tersungkur hingga tak mampu melanjutkan pertandingan.
Tak hanya Gavin, penggawa Mongolia, Galt Tuguldur, pun bernasib serupa. Pemain bernomor punggung lima itu bahkan harus terlebih dahulu meninggalkan pertandingan usai bertabrakan dengan Osvaldo Haay pada babak pertama.
Tak ayal, buruknya kondisi lapangan Stadion Harapan Bangsa itu menjadi bahan olok-olok. Terutama ketika striker Timnas Indonesia Ilija Spasojevic hendak mengambil tendangan penalti pada babak kedua.
Sadar permukaan lapangan di sekitar titik putih tergenang lumpur, Spaso–sapaan akrabnya–lantas menyapu lapangan menggunakan kedua tangannya. Sebuah pemandangan yang cukup unik sekaligus menyakitkan bagi sepak bola Indonesia.
Wasit laga Indonesia vs Mogolia, Thoriq Alkatiri, bahkan mengaku sangat kesulitan memimpin dengan kondisi lapangan yang becek dipenuhi lumpur itu. Kendati demikian, lanjut Thoriq, pertandingan juga harus tetap berjalan.
“Susah sekali. Pelanggaran sedikit saja, karena licin, pemain bisa terjatuh guling-gulingan. Identifikasi pelanggaran juga harus butuh ketelitian, jadi saya berusaha sedekat mungkin dengan bola,” ujar Thoriq kepada kumparan pada Selasa (5/12).
Kalau sudah begini, mau main bola atau main lumpur? [] Sumber: kumparan.com



