“Abang-abang, kok enggak pakai masker? Mana maskernya, dipakai dong! Duduknya janganlah rapat gitu, jaga jarak ya!” ucap Wakram dengan wajah berhias senyum setelah meletakkan roti dalam keranjang di sebuah warung di Jalan Protokol Kota Lhokseumawe, 24 November 2020, siang.

Mendengar ucapan Wakram, sejumlah pria yang duduk dalam warung serentak mengarahkan pandangan mereka kepada pengantar roti itu. “Siap, buk!” timpal seorang pria paruh baya sambil tersenyum. Pria itu lantas menggeser kursinya beberapa jengkal.

“Maafkan saya, lupa bawa masker. Mudah-mudahan besok tidak lupa karena sudah ditegur sama ibu ini,” kata seorang pria lainnya yang sedikit tampak lebih muda dari pria paruh baya tadi.

Empat pria lain membisu. Lalu terlihat sibuk dengan telepon pintar masing-masing. Tidak ada penjelasannya apapun mengapa mereka tak memakai masker dan duduk rapat. 

“Mohon maaf ya bang, saya hanya mengingatkan, mungkin abang lupa. Sebaiknya kita semua memakai masker, menjaga jarak dan sering mencuci tangan. Kan pemerintah sering sosialisasikan agar semua orang ikut protokol kesehatan biar tidak tertular covid (Coronavirus Disease 2019/Covid-19). Sebaiknya kita turuti imbauan pemerintah demi kebaikan kita semua,” ujar Wakram kepada pengelola warung itu yang juga tidak memakai masker.

Sebelum meninggalkan warung itu, Wakram berkata dengan suara pelan, “Pakailah masker, bang. Kalau abang sudah kasih contoh yang baik, abang  juga bisa ajak semua pelanggan ikut protokol kesehatan”.

Pengelola warung itu menyambut saran Wakram dengan senyum, dan mengucapkan terima kasih.

Wakram adalah nama panggilan untuk Ramlah, warga Desa Paya Punteuet, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Perempuan 51 tahun itu sudah lebih dua bulan bekerja sebagai pengantar roti ke warung-warung di kawasan pusat kota dengan mengendarai sepeda motor. 

Wakram memgambil roti produksi home industry (industri rumahan/) milik Anto (33 tahun), di Desa Meunasah Alue, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Wakram selalu memakai masker saat menjalani pekerjaan itu.

“Saya punya beberapa masker kain dan sarung tangan. Ketika yang satu dipakai, yang lain dijemur setelah dicuci. Begitu juga sarung tangan, biar selalu bersih dan terhindar dari korona (Covid-19),” ujar Wakram saat ditemui di Warung Tejo Jus, Jalan Samudera Lama, Lhokseumawe, 3 November 2020.

Wakram memperoleh pengetahuan dari pemberitaan media cetak dan televisi tentang pentingnya menerapkan protokol kesehatan saat beraktivitas di luar rumah untuk mencegah penularan wabah Covid-19. “Pemerintah kan sosialisasi 3M seperti berita di koran dan nonton di tivi. Di kota juga banyak baliho cegah korona, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun atau air mengalir, dan menjaga jarak,” tuturnya.

Namun, sebagian masyarakat masih abai dengan protokol kesehatan. Di sejumlah warung yang menjadi tempat Wakram menaruh roti, pemilik maupun pelanggan warung  tidak memakai masker dan menjaga jarak. “Kadang-kadang saya kasih saran. Kenapa kok enggak pakai masker, sebaiknya pakai supaya tidak kena korona,” ucap Wakram.

Selain di warung, banyak pedagang maupun pembeli di pasar juga tidak memakai masker. Seperti hasil pantauan di Pasar Inpres Lhokseumawe, 15 dan 20 November 2020. Salah seorang pedagang sayur, R (sekitar 45 tahun), mengaku lupa membawa masker saat berangkat dari rumahnya ke pasar itu usai Subuh. “Buru-buru sehingga lupa bawa masker,,” ucapnya saat ditanya mengapa tidak memakai masker, 15 November 2020.

Pedagang tempe, tahu, dan tauge, N (sekitar 35 tahun), beralasan lupa memakai masker karena sibuk melayani pembeli. “Ada masker,” kata N yang kemudian mengeluarkan masker kain dari saku celananya. Sambil terkekeh N lantas memasang masker di dagu. 

Ada pula pedagang yang berdalih kurang nyaman jika selalu memakai masker. “Agak sesak,” ucap A (sekitar 50 tahun), pedagang kelontong. Dia baru memakai masker saat wartawan mengeluarkan telepon pintar untuk mengambil gambar suasana di pasar tersebut.

Menurut sejumlah pedagang sudah beberapa kali tim Satpol PP melakukan patroli ke Pasar Inpres. Itulah sebabnya, N dan A tetap membawa masker supaya tidak kena teguran dari Satpol PP yang memantau sekaligus mengingatkan para pedagang agar menerapkan protokol kesehatan, salah satunya memakai masker. “Ada petugas patroli yang masuk ke sini meski tidak tiap hari. Kadang-kadang seminggu sekali. Semua pedagang dan pembeli diminta memakai masker dan menjaga jarak,” ucap A.

A mengakui manfaat memakai masker untuk mencegah penularan wabah Covid-19. “Iya memang, tapi kalau pakai terus menerus kurang nyaman juga. Menurut saya, kalaupun tidak memakai masker dari pagi sampai siang, yang penting tetap menjaga kesehatan, kondisi tubuh harus fit, biar tidak mudah kena penyakit,” tuturnya.

Selain tidak memakai masker, sebagian pembeli di pasar itu terlihat tidak menjaga jarak saat mengantre di muka beberapa kedai. Di tempat penjualan bumbu dapur misalnya. Para pembeli tampak menumpuk.  

“Lupa bawa masker hari ini. Biasanya pakai juga,” kata seorang perempuan paruh baya ditemui di pasar itu, 20 November 2020.

Ditanya mengapa tidak menjaga jarak saat mengantre di depan kedai bumbu dapur, dia mengatakan, “Cuma sebentar, tidak sampai 10 menit”.

Sekda Lhokseumawe, T. Adnan, mengatakan sejak April 2020 Wali Kota sudah menetapkan Lhokseumawe menjadi Kota Wajib Bermasker. Hasil rapat koordinasi Forkopimda, Wali Kota kemudian mengeluarkan instruksi pada 21 April lalu, menegaskan bahwa masyarakat yang beraktivitas di luar rumah, wajib memakai masker. Instruksi Wali Kota itu sudah disosialisasikan hingga ke desa-desa.

“Pemko Lhokseumawe bersama TNI dan Polri terus berupaya melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar mengikuti protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19,” kata Adnan pada akhir September 2020.

Adnan menyebut tim gabungan Satpol PP, TNI dan Polri juga rutin menggelar patroli dan razia di sejumlah lokasi termasuk pasar untuk menertibkan masyarakat yang tidak mengikuti protokol kesehatan. “Kita semua harus terus berupaya melakukan pencegahan penyebaran covid ini. Misalnya, warga yang duduk di kafe-kafe harus pakai masker, sering cuci tangan dan jaga jarak. Begitu juga di pasar dan lokasi keramaian lainnya, protokol kesehatan harus diterapkan,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Lhokseumawe Said Alam Zulfikar mengatakan pihaknya terus melakukan sosialisasi tentang pentingnya penerapan protokol kesehatan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. “Termasuk melibat kepala desa dan aparat desa lainnya, tentunya mereka punya peranan sangat besar terhadap pencegahan Covid-19, karena bisa memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang pentingnya protokol kesehatan,” tutur Said dikonfirmasi, 3 November 2020.

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Aceh Saifullah Abdulgani mengatakan kasus konfirmasi positif Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di Aceh semakin menurun sejak awal November 2020. Namun, penularan virus korona masih terjadi sehingga masyarakat diminta tetap disiplin 3M. Yakni, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak atau menghindari kerumunan untuk mencegah Covid-19.

“Melihat tren jumlah yang sembuh lebih tinggi. Tapi kita tetap waspada dan tidak mengabaikan protokol kesehatan,” ujar Saifullah Abdulgani akrab disapa SAG, 22 November 2020. 

SAG menjelaskan, pada minggu I  (periode 2 – 8 November 2020) kasus konfirmasi baru sebanyak 261 orang, turun menjadi 224 orang pada minggu II (peride 9 – 15 November), dan turun lagi menjadi 213 kasus minggu III (periode 16 – 22 November 2020). Jumlah kasus konfirmasi dalam tiga periode tersebut sebanyak 698 kasus. Sementara jumlah penderita Covid-19 yang sembuh bertambah sebanyak 1.041 orang dalam periode waktu yang sama. Sedangkan jumlah penderita yang meninggal 29 orang.

Juru Bicara Covid-19 Aceh itu melaporkan kasus akumulatif Covid-19, sejak kasus pertama diumumkan pada 27 Maret 2020 silam. Jumlah akumulatif kasus Covid-19 Aceh sudah mencapai 8.124 orang. Penderita yang dirawat saat ini 1.132 orang, sembuh 6.691 orang, dan 301 orang meninggal dunia. 

Jubir Pemerintah Aceh itu mengatakan kasus-kasus probable di Aceh secara akumulasi saat  ini sebanyak 534 orang. Dari jumlah kasus probable tersebut, 47  orang dalam penanganan tim medis (isolasi RS), 447 sudah selesai isolasi, dan 40 orang meninggal dunia. Sedangkan jumlah kasus suspek di seluruh Aceh hari ini telah mencapai 4.218 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.045 orang sudah selesai masa pemantauan (selesai isolasi), 159 orang dalam proses isolasi di rumah, dan 14 orang isolasi di rumah sakit, kata SAG.

Pemerintah dari tingkat nasional sampai daerah memang terus mensosialisasikan kepada masyarakat tentang penerapan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19. Namun, berbagai elemen masyarakat, baik melalui komunitas hingga antarwarga juga penting saling mengingatkan supaya selalu memakai masker, menjaga jarak dan sering mencuci tangan saat beraktivitas di luar rumah. 

Seperti Wakram, sambil mengantar roti mengingatkan pengelola warung dan pelanggan agar mengikuti protokol kesehatan sesuai imbauan pemerintah untuk kebaikan bersama, terhindar dari Covid-19. Jika banyak warga lainnya berperan seperti Wakram, tentu upaya memutus mata rantai wabah menular itu akan membuahkan hasil lebih maksimal.[](Irm)