BANDA ACEH – NasDem mengharapkan agar seluruh kandidat yang telah resmi menjadi peserta pemilukada Aceh 2017 ini, menjadikan masa-masa kampanye benar-benar sebagai moment untuk melakukan pendidikan politik dan pendidikan proses demokrasi bagi seluruh rakyat Aceh. Sehingga tidak menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan semata. 

“Proses demokrasi ini sangat mahal harganya, sangat disayangkan jika pada tahapan pilkada (tahapan demokrasi) ini bukannya memperbaiki pemahaman politik dan demokrasi publik khususnya Aceh, tapi justru semakin memperburuk pemahaman dan orientasi publik luas terhadap institusi dan pelaku politik,” ujar Ketua Bappilu NasDem Aceh, T. Banta Syahrizal, kepada portalsatu.com, Senin, 24 Oktober 2016 malam.

NasDem berharap institusi penyelengara, institusi pengawas, kandidat, partai pendukung, dan seluruh tim pemenangan pasangan calon kepala daerah, dapat menjadi pihak-pihak yang paling bertanggung jawab untuk memperbaiki kualitas politik dan demokrasi di Aceh.

Dia juga meminta KIP Aceh dan Kabupaten/Kota beserta seluruh jajaran penyelenggara Pilkada, agar berlaku adil dan tanpa memihak untuk seluruh kandidat, “sehingga tidak ada yg dianak kandung dan tirikan pada setiap tahapan nantinya.”

T Banta juga meminta Panwaslih Aceh dan Kab/Kota beserta seluruh jajarannya agar bisa melaksanakan tugas dengan baik, mengawasi dan memproteksi seluruh pelanggaran pemilu secara fair, sehingga tercipta suasana yang baik dalam seluruh tahapan pilkada Aceh kedepan.

“Seluruh kandidat kepala daerah beserta tim pemenangannnya agar menghindari seluruh praktek-praktek yang melanggar aturan dan perundang-undangan pada masa-masa pemenangan pilkada ini, karena harus disadari yang terpenting dari pilkada bukan hanya menang pilkada saja, tapi damai Aceh dan praktek pemenangan pilkada kali ini juga akan menjadi preseden bagi proses politik dan demokrasi Aceh kedepan,” kata T Banta. 

Dia juga mengajak semua pihak lebih mengutamakan untuk meninggalkan catatan dan preseden manis bagi demokrasi kedepan, dibandingkan menang tapi dengan menghalalkan segala cara dan menyumbangkan pengalaman buruk bagi masa depan peradaban Aceh. Bahkan mungkin membuat masyarakat terus terkotak-kotak dan terpecah belah. “Yang jelas sangat merugikan untuk Aceh masa depan,” kata T Banta.

Menurut T. Banta, Pilkada Aceh 2017 bukanlah proses politik terakhir bagi seluruh partai politik pendukung pasangan calon. Untuk itu dia mengajak semua pihak agar terus saling mengingatkan, dan menjaga agar setiap tahapan dan momentum politik bisa terus memperbaiki kekurangan proses yang telah lalu. 

“Sehingga kita semua benar-benar pada koridor yang benar dan akan ikut menyumbangkan sebuah mekanisme dan praktek yang benar untuk perbaikan demokrasi dan politik kedepan. Dengan itu, citra dan keberadaan partai politik akan semakin penting dalam tatanan demokrasi dan bernegara di republik tercinta ini,” kata T. Banta.

Dia juga meminta aparat keamanan dan jajarannya, agar bisa memberikan kenyamanan bagi seluruh rakyat dalam menentukan pilihan terbaiknya untuk pemimpin-pemimpin Aceh kedepan. “Bebas dari tekanan dan paksaan dalam bentuk apapun, sehingga kualitas pemimpin yang akan hadir adalah yang terbaik bagi seluruh rakyat Aceh,” ujarnya.[]