BANDA ACEH – Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Aceh,  H. Badruzzaman, S.H., M.Hum., bersama Rumoh Koalisi Budaya Aceh (RKBA) mengadakan pertemuan lanjutan II membahas usulan Pergub tentang pakaian adat Aceh, di Ruang Duek Meusapat MAA, Banda Aceh, Kamis, 4 Oktober 2018.

Badruzzaman mengatakan mendukung gagasan disampaikan RKBA karena dinilai bersifat membangun dan bisa mengolah aset-aset nilai sejarah. Saat program itu sudah berjalan kelak akan bisa menunjang kesejahteraan masyarakat.

“Saya sangat men-support dan mendorong, serta memberi masukan nilai-nilai bagaimana supaya program ini bisa berkembang dan berjalan dengan baik,” kata Badruzzaman kepada portalsatu.com/ usai pertemuan itu.

Penasihat MAA, H. Harun Keuchik Leumik, kepada portalsatu.com/ juga mengatakan, usulan RKBA kepada MAA sangat bermanfaat, juga bisa mengembalikan adat istiadat budaya Aceh ke jalan yang betul. Sebab selama ini masalah adat, budaya, dan pakaian itu sudah melenceng jauh.

“Dengan adanya pertemuan hari ini (Kamis) kita menggalang untuk mengadakan persamaan supaya jatidiri orang Aceh bisa kembali seperti semula. Pertemuan seperti ini harus dilanjutkan sampai MAA dapat keputusan kemudian kita ajukan kepada gubernur untuk dipergubkan,” kata H. Harun.

Pertemuan itu juga dihadiri Ketua Bidang Putroe Phang MAA, Dra. Hj. Zulhafah, dan Wakil Ketua Bidang Putroe Phang, Dra. Hj. Nur Asmah, M.Pd., Kepala Sekretariat MAA Usman, mantan Kabag Umum Yusriadi, dan beberapa staf MAA. Sementara dari Rumoh Koalisi Budaya Aceh (RKBA) hadir Aris Faisal Djamin, S.H., Muammar, dan Mawardi Usman.

Koordinator RKBA Aceh, Aris Faisal Djamin, berharap mangatakan usulan agar baju adat Aceh diperubkan mendapat dukungan dari MAA dan masyarakat Aceh.

“Kesepakatan kita sudah final dan MAA siap memberikan rekomendasi serta dukungan untuk melanjutkan syarat baju adat Aceh menjadi sebuah pergub. Ini memberikan semangat kepada kita dan Insya Allah setelah ini kita lanjutkan ke Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Kami mohon doa restu serta dukungan kepada semua rakyat Aceh,” kata Aris.[]