LHOKSEUMAWE – Pemerintah Gampong Keude Cunda, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, membangun Monumen Sejarah Pertempuran Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Melawan Tentara Jepang.
Amatan portalsatu.com/, Sabtu, 26 Oktober 2019, lokasi pembangunan monumen sejarah itu persis di sisi kiri pintu gerbang jalan Pasar Cunda dari arah Jalan Merdeka jalur masuk kawasan pusat kota Lhokseumawe.
Di lokasi tersebut tampak prasasti tertulis “Pertempuran Antara T.K.R./Rakjat Melawan Tentara Djepang, Tgl. 24 – 11 – 1945, Tjunda”.

(Batu Prasasti Pertempuran Rakyat Melawan Tentara Jepang di Cunda. Foto: portalsatu.com/)
Pembangunan monumen sejarah itu menggunakan Dana Desa Keude Cunda tahun 2019 senilai Rp163.529.243. Data itu berdasarkan keterangan tertulis di papan terpasang pada tembok dekat prasasti tersebut.
Di lokasi itu terlihat tumpukan batu sungai dan material lainnya. Para pekerja sedang membangun dinding monumen berkonstruksi batu bata. Di belakang prasasti tadi sudah digali lubang besar. “Lubang itu untuk dibangun tiang portal,” ujar seorang pemuda, pekerja pembangunan monumen tersebut, Sabtu pagi. Pemuda itu mengaku pembangunan monumen itu dikerjakan sejak seminggu lalu.
Geuchik Keude Cunda, Tarmizi, menjelaskan lahan lokasi pembangunan monumen sejarah itu milik pemerintah. Selama ini di lokasi itu terdapat bangunan berkonstruksi kayu yang difungsikan sebagai bengkel sepeda milik seorang warga. Namun, bengkel sepeda tersebut sudah dibongkar karena akan dibangun monumen sejarah.
“Saya lahir tahun 1965, saat saya masih usia SD, lokasi itu lahan kosong, hanya ada prasasti (pertempuran TKR melawan tentara Jepang). Jadi, batu prasasti itu tetap kita pertahankan sebagai monumen dasar, tidak boleh diganti atau dibuat baru. Yang dibangun baru adalah bangunan monumen, bisa dilihat gambarnya,” ujar Tarmizi dihubungi melalui telepon seluler, Sabtu siang.
(Gambar rancangan Monumen Sejarah Pertempuran Rakyat Melawan Tentara Jepang di Cunda yang sedang dibangun. Foto: Tarmizi, Geuchik Keude Cunda)
Menurut Tarmizi, Pemerintah Gampong Keude Cunda membangun Monumen Sejarah Pertempuran Rakyat Melawan Tentara Jepang itu agar masyarakat dan generasi Aceh akan datang mengetahui bahwa di Keude Cunda pernah terjadi pertempuran TKR melawan pasukan Jepang pada 24 November 1945.
Tarmizi berharap monumen sejarah itu selesai dikerjakan sebelum 24 November 2019.
Sejumlah warga Lhokseumawe mengapresiasi Pemerintah Gampong Keude Cunda menggunakan dana desa membangun Monumen Sejarah Pertempuran Rakyat Melawan Tentara Jepang. “Karena selama ini kita sama sekali tidak mengetahui tentang sejarah pertempuran rakyat melawan tentara Jepang di Cunda pada 24 November 1945. Kita harapkan, di dalam monumen sejarah itu nantinya disediakan informasi tentang sejarah tersebut, sehingga menjadi pengetahuan atau edukasi bagi masyarakat terutama generasi muda saat ini dan masa akan datang,” kata Fery, warga Lhokseumawe.
Fery beharap langkah Pemerintah Gampong Keude Cunda itu ke depan diikuti gampong-gampong lainnya di Lhokseumawe, terutama yang memiliki nilai sejarah, baik sejarah era Kerajaan Islam Samudra Pasai maupun zaman perjuangan rakyat Aceh melawan penjajahan kolonial Belanda hingga Jepang.
“Kita berharap pengelolaan dana gampong tidak hanya untuk pembangunan fisik seperti jalan dan parit, tapi juga bisa digunakan untuk pemugaran situs sejarah, serta tempat ibadah yang nyaman. Kita juga meminta Pemerintah Kota Lhokseumawe melalui dinas terkait lebih peka terhadap peninggalan-peninggalan sejarah. Karena banyak jejak sejarah Islam maupun sejarah pertempuran rakyat melawan penjajah yang harus dilestarikan,” ujar Fery.
Bekas loket kereta api
Di dekat prasasti pertempuran TKR melawan tentara Jepang di Keude Cunda, ternyata dahulunya berdiri bangunan loket kereta api. Tembok bekas loket kereta api itu sekarang menjadi dinding rumah warga.
“(Bekas) loket kereta api persis di sampingnya (lokasi monumen pertempuran TKR melawan tentara Jepang), yang sekarang jadi rumah warga,” kata Geuchik Tarmizi.
Salah seorang warga Lhokseumawe, Said Baharudin, juga menyebut di sisi pintu gerbang jalan Pasar Cunda itu dahulunya terdapat loket kereta api. “Saat masih kecil, saya sempat melihat loket kereta api di Cunda itu. Sedangkan terminal kereta api dulu di samping Bank BTN sekarang, seberang jalan depan Pendopo Bupati Aceh Utara (di kota Lhokseumawe),” ujar pria asal Kuta Makmur, Aceh Utara, itu yang sekarang menetap di Lhokseumawe.[](nsy)







