Kedudukan pemimpin berada di atas dan berhak untuk mengatur dan memerintahkan bawahannya. Namun idealnya pemimpin adalah mereka yang justru melayani bukan dengan tujuan untuk dilayani. Yang memimpin dari kalbu seorang “hamba” yang penuh pengabdian bukan lahir dari hati seorang “penguasa” yang penuh dengan egoisme dan kesewenangan.

Pelayanan dan kepemimpinan sepertinya adalah dua hal yang sangat bertolak belakang. Bagaimana mungkin melayani tapi juga memimpin? Bukankah pemimpin itu justru adalah harus dihormati, dilayani, dan disanjung? Pemimpin yang besar adalah pemimpin yang memiliki jiwa besar untuk bersedia merendahkan diri melayani mereka yang ia pimpin dengan penuh pengabdian. Fokusnya hanyalah bagaimana menyejahterakan, mengantarkan segala kebaikan bagi mereka yang ia pimpin. Jiwa pelayanan atau pengabdian ini akan mengibarkan seorang pemimpin menjadi pemimpin yang besar dan bermartabat. (Andrew King, 2010).

Pernyataan ini juga sebagaimana diamanatkan di dalam isi pidato politik Abu Bakar Ash-Shindiq pertama, bunyinya: “Kejujuran itu merupakan amanah, sedangkan dusta itu merupakan pengkhianatan. Kaum yang lemah menempati posisi yang kuat di sisiku hingga aku dapat mengembalikan padanya haknya dengan izin Allah. Sedangkan, kaum yang kuat menempati posisi yang lemah di sisiku hingga aku dapat mengambil darinya hak orang lain dengan izin Allah.”

Berdasarkan paparan isi pidato khalifah Abu Bakar di atas, sangat jelas beliau ingin menegaskan kepada kita bahwa setiap jabatan merupakan sebuah kerugian bukan keuntungan, sebuah tanggung jawab bukan penghormatan, sebuah pengorbanan bukan penghargaan, dan sebuah kewajiban bukan kesewenang-wenangan.

Saidian Abu Bakar Ash-Shiddiq pun ingin menghilangkan kesan di tengah masyarakat bahwa seorang pemimpin itu harus dihormati secara berlebihan. Justru, seorang pemimpin itu diangkat untuk memberikan pelayanan dalam agama Allah dan risalah-Nya. Allah Taala mengangkatnya sebagai pemimpin untuk melayani rakyatnya bukan sebaliknya rakyatnya yang melayani dia.

Dengan demikian, Abu Bakar telah meletakkan batasan tanggung jawabnya termasuk batasan kewajiban kaum muslimin. Menurutnya, kita sebagai umat harus mampu berperan aktif dalam persoalan kepemimpinan. Mereka harus menjadi mitra pemerhati dan bukan pengikut yang tidak mau tahu dan peduli dengan apa yang sedang terjadi. ( Abdus Sattar Asy-Syaikh, Sepuluh Shahabat yang Dijanjikan Masuk Surga)

Keberhasilan pemimpin juga diperankan ketika mampu memberdayakan dari semua komponen masyarakat yang berbeda menuju keberhasilan bersama demi kesejahteraan dan kemakmuran bersama pula, sehingga apa yang dimiliki oleh setiap individu masyarakat mampu dikoordinir dengan baik dan komperhensif (menyeluruh).

Ini sesuai sebagaimana ungkapkan Maxwell yang berbunyi, “The best leaders are humble enough to realize their victories depend upon their people”, (para pemimpin yang terbaik cukup rendah hati untuk menyadari bahwa kemenangan-kemenangan mereka bergantung pada orang-orang yang dipimpinnya).

Apa yang diungkapkan Maxwell telah dulu dipaparkan oleh Rasulullah SAW dalam banyak sabdanya. Di antaranya berbunyi: Apabila ada dua orang laki-laki yang meminta keputusan kepadamu maka janganlah engkau memberikan keputusan kepada laki-laki yang pertama sampai engkau mendengarkan pernyataan dari laki-laki yang kedua. Maka engkau akan tahu bagaimana enkau memberikan keputusan. (Hr. Turmudzi).

Dalam hadis lain juga disebutkan: Setiap pemimpin yang menutup pintunya terhadap orang yang memiliki hajat, pengaduan, dan kemiskinan maka Allah akan menutup pintu langit terhadap segala pengaduan, hajat dan kemiskinannya.(Al-hadis).

Kita berharap para pemimpin baik sebagai presiden, gubernur, bupati maupun jenjang lainnya mampu meneladani sosok khalifah Abu Bakar Ash-Shiddq dalam menjalankan roda pemerintah. Sebagaimana dijelaskan dalam pidato politiknya dan seorang pemimpin itu harus mampu menjadi pelayan umat, bukan sebagai orang yang dilayani. Juga harus mampu mengkoordinir semua harapan dan aspirasi masyarakat dan direalisasikan juga untuk kesejahteraan serta kemakmuran masyarakat. Semoga.[]