Tubuh gempalnya yang diselimuti kain batik terbujur di sudut ruangan perawatan 210 B Rumah Sakit Umum Arun, Lhokseumawe. Namanya, Aisyah, 50 tahun. Ia korban selamat dari sambaran petir di kantin SMP Al-Alaq, Kompleks eks-Perumahan PT Asean Aceh Fertilizer (AAF), Paloh Lada, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, Sabtu, 7 Oktober 2017, sekitar pukul 11.00 WIB..
Dirawat di RSU Arun, wanita yang rambutnya beruban itu ditemani kerabatnya, Ernawati, 40 tahun. Aisyah sesekali merintih. Dia mengeluh seluruh tubuhnya sakit.
“Dari tadi minta dipijat terus, katanya biar tidak sakit dan pegal. Sekarang sudah bisa bicara walau belum pas,” kata Ernawati, saat portalsatu.com menyambanginya di rumah sakit itu, Sabtu, sekitar pukul 21.00 WIB.
Aisyah disebut sudah siuman setiba di rumah sakit itu. Pihak keluarga pun sudah memberitahukan tentang suaminya, Muhammad yang meninggal dunia akibat tersambar petir di kantin SMP Al-Alaq, tempat Aisyah biasanya menjajakan dagangan siomainya. Kabar ini membuat Aisyah begitu berduka. Dia sedih karena tidak bisa mengantarkan jenazah sang suami ke peristirahatan terakhir.
Seorang korban meninggal dunia lainnya akibat tersambar petir di kantin itu, Muhammad Zaki, pelajar SMP Al-Alaq.
Aisyah selamat dari sambaran petir itu. Sepuluh pelajar SMP Al Alaq lainnya dilaporkan juga selamat dari kejadian tersebut.
“Wate nyan jitoh ujuen brat, lon duek bak bangku, teungoh lon boh somai. Di ayah teungoh geuproh eh di likot, pah di yup bak kaye. Lon tingat si Zaki di duek bak bangku chit dipajoh makanan hana jioh di likot lon. (Waktu itu hujan deras, saya duduk di bangku sedang menaruh siomai. Suami saya sedang memecahkan es batu di belakang, tepat di bawah pohon. Saya ingat si Zaki duduk tidak jauh dari saya sedang makan cemilan),” kata Aisyah sedih.
Sejurus kemudian, kata Aisyah, terdengar ledakan besar diiringi kilatan cahaya. Dia pun tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. “Aleuh su nyan, hana kuthee sapeu pih. Pah sadar ka di rumoh saket (setelah suara itu, saya tidak tahu apa-apa lagi, setelah sadar sudah di rumah sakit),” cerita Aisyah.
Aisyah mengaku tidak tahu pasti jumlah siswa yang berteduh di kantinnya saat itu. Namun, jumlahnya banyak. Dia juga mengaku dekat dengan M. Zaki, korban yang meninggal dunia.
“Jih anuek seumateh, got akai, ngon ayah pih rap (Zaki anak patuh, baik budi, juga dekat dengan almarhum suami),” kata Aisyah.
Seorang kerabat Aisyah yang sedang membesuk wanita itu mengatakan, usai tersambar petir para korban tergeletak semua di tanah. Ada beberapa siswa yang berusaha menolong. Namun, saat mereka menyentuh korban badan mereka seperti terkena sengatan listrik. Akhirnya beberap orang berusaha menunggu sebelum akhirnya para korban dievakuasi.
“Saya tidak lihat pastinya seperti apa, tapi semua saksi yang ada di lokasi bercerita seperti itu,” kata wanita yang tidak ingin disebutkan namanya.
Hal senada diakui Ernawati. Dia mengatakan, Aisyah mengaku badannya masih bergetar sampai saat ini. Kakinya bahkan terasa kebas.
“Seperti di dalam badannya masih tersimpan arus listrik. Petir itu kan listrik,” kata Ernawati.[]



