SIGLI KIP Pidie terpaksa menunda debat publik calon bupati-wakil bupati, di Aula Lantai 3 Hotel Grand Blang Asan Sigli, Selasa, 10 Januari 2017. Pasalnya, menjelang dimulai acara debat, muncul aksi protes dari pendukung pasangan calon bupati-wakil bupati Roni Ahmad (Abusyik)-Fadhlullah T.M. Daud.
Pendukung Abusyik-Fadhlullah tidak dapat menerima keputusan KIP Pidie yang meminta mereka agar tidak memakai peci merah yang menjadi atribut paslon itu. Tidak hanya para pendukungnya, Abusyik-Fadhlullah pun ikut keluar dari ruangan debat publik tersebut.
Ketua KIP Pidie Ridwan kemudian mengumumkan penundaan debat publik tersebut. Ia mengaku keputusan itu sesuai dengan rekomendasi Panwaslih Pidie.
Tadi ketika di ruang acara, Panwaslih menyatakan secara lisan untuk menunda (debat publik). Saat ini kita sudah memiliki rekomendasi secara tertulis, kata Ridwan kepada portalsatu.com, Selasa, sore.
Berdasarkan surat rekomendasi Panwaslih, kata Ridwan, KIP diminta menunda debat publik calon bupati-wakil bupati sampai adanya kesepakatan bersama.
Ridwan menyebut KIP akan duduk kembali bersama ketiga paslon untuk membahas kesepakatan bersama. Sebelumnya, kata dia, technical meeting tentang debat publik hanya dihadiri tim pengubung, sehingga diduga hasil kesepakatan tidak diteruskan kepada paslon.
Berikut isi surat rekomendasi Panwaslih kepada KIP Pidie yang diperoleh portalsatu.com dari Ketua KIP Pidie Ridwan:
1. Sehubungan aksi protes terhadap hasil kesepakatan yang telah disepakati bersama antara tim penghubung ketiga pasangan calon mengenai penggunaan topi merah dari salah satu tim penghubung pasangan calon.
2. Berkenaan dengan hal tersebut di atas KIP Kabupaten Pidie selaku penanggung jawab debat calon bupati dan wakil bupati tidak memuat aturan tersebut secara tegas dan jelas mengenai penggunaan topi merah oleh salah satu tim penghubung pasangan calon.
3. Maka dari itu Panwaslih Kabupaten Pidie merekomendasi agar KIP Kabupaten Pidie menunda debat calon bupati dan wakil bupati sampai dengan adanya kesepakatan bersama.[]




