Cinta sejati muncul seiring berjalannya waktu yang mereka lewati bersama dalam suka dan duka. Karena cinta sejati tak dapat diukur hanya dengan sebuah ungkapan sayang. Cinta sejati tak akan disebut sebagai cinta sejati kecuali kita sendiri yang menyejatikan cinta itu sendiri.
Cinta sejati tidak akan memandang kekurangan sahabat maupun pasangannya sebagai kelemahan, keburukan, tetapi sebagai sebuah keindahan.
Cinta sejati bisa saja terjadi terhadap sejenis dalam artian yang positif. Hal ini pernah terjadi di zaman Rasulullah saw. Seorang hamba sahaya bernama Tsauban amat menyayangi dan merindui Nabi Muhammad saw.


