Jumat, Juli 19, 2024

Samsul Azhar Dilantik sebagai...

BANDA ACEH - Pj. Gubernur Aceh, Bustami Hamzah, melantik Samsul Azhar sebagai Pj....

Ini Kata Camat Tanah...

ACEH UTARA - Pemerintah sedang melakukan pendataan bangunan yang rusak akibat diterjang badai...

JPU Tuntut Lima Terdakwa...

BANDA ACEH - Jaksa Penuntut Umum menuntut empat terdakwa perkara dugaan korupsi pada...

Abu Razak Temui Kapolda,...

BANDA ACEH – Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh H. Kamaruddin...
BerandaNewsKisah Gingin, dari...

Kisah Gingin, dari Mustahik Jadi Jutawan

JAKARTA — Kaum penyandang disabilitas kerap mendapat perilaku diskriminasi dan tergeser dari masyarakat serta hidup dalam kemiskinan. Akhirnya tak jarang mereka patah semangat dan jadi peminta-minta.

Ini tak berlaku bagi Gingin. Pria asal Pandeglang Banten ini dulunya adalah seorang mustahik yang hanya memiliki satu lengan dan sering meminta bantuan ke Kantor MM (Menuju Mandiri) Al Azhar Peduli Ummat di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta. Namun sekarang ia telah sukses menjadi jutawan dan motivator.

Sekitar tahun 2010 lalu Gingin masih berjualan asongan di daerah Jakarta. Karena tak ada kerabat dekat, saat mengalami permasalahan ekonomi ia meminta bantuan ke Kantor MM Al Azhar Peduli Ummat.

Tak hanya sekali dua kali, ia sering kembali lagi meminta bantuan dengan alasan yang berbeda-beda seolah-olah menjual kekurangan fisik yang dialaminya. Suatu hari ia kembali mengajukan bantuan dengan membawa serta anak dan istrinya.

Berharap mendapat bantuan uang banyak Tim MM justru hanya memberinya uang sebesar Rp 20 ribu karena dia sudah terlalu sering datang. Akhirnya, Ahmad yang saat itu bertugas, memberikan motivasi kepada Gingin, bahwa siapapun bisa maju dan ukses asal ada kemauan kuat.

“Silahkan bapak pulang ke kampung halaman dan cari potensi alam yang ada di daerah bapak. Jika sudah ditemukan silahkan kembali lagi ke Al Azhar,” ujar Ahmad.

Mendengar kata motivasi yang membakar semangatnya ia kemudian memutuskan untuk segera pulang ke Pandeglang memboyong serta istri dan anaknya. Selama di perjalanan dia terus berpikir apa yang harus dikerjakannya agar maju dan mandiri.

Akhirnya Gingin menemukan peluang usaha budidaya madu klanceng di desanya. Ia kemudian menjalankan budidaya madu klanceng di kampung halamannya di Kampung Gardu Tanjak, Pandeglang, Banten karena madu klanceng atau madu trigona tergolong mahal sebab di Indonesia belum banyak yang membudidayakannya.

Dalam menjalankannya Tim dari APU terus memberikan pendampingan dan monitoring serta motivasi dan solusi dalam modal. Selang beberapa tahun bergulir, Alhamdulillah hasilnya memuaskan.

Budidaya madu klanceng yang dijalaninya terus berkembang pesat dan Gingin tengah fokus memperluas jaringan pemasaran dan meningkatkan jumlah produksi. Ia juga memberdayakan masyarakat sekitar untuk mengelola madu klanceng.

Ia juga mengembangkan Himpunan Penyandang Cacat untuk memberdayakan para kaum disabilitas. Tak hanya itu, ia juga dipercaya Pemda Banten untuk menjadi trainer dan motivator dalam berbagai pelatihan.

Berkat keuletan dan kesabarannya kini ia sudah mempunyai dua buah rumah dan beberapa kendaraan pribadi. Rumah lamanya telah diwakafkan menjadi Saung Pintar sebagai wadah peningkatan kapasitas masyarakat dalam pertanian madu klanceng dan pembelajaran berorganisasi bagi remaja di Pandeglang.

Kisah Pak Gingin sangat menginspirasi. Kesuksesannya yang diraih kini, juga kesuksesan Sahabat Al Azhar yang selalu berdonasi melalui Al Azhar Peduli Ummat. Zakat, infaq dan sedekah yang dimanahkan sahabat Al Azhar tidak dirasakan sesaat saja manfaatnya, tapi terus berkelanjutan.[] Sumber: republika.co.id

Baca juga: