Karima mengikrarkan syahadatnya pada 20 September 1991. Jika kembali di lima tahun sebelum mengucap syahadat, dia tidak bisa membayangkan bisa menjadi seorang Muslim.

Proses pencarian hidayahnya berlangsung selama tiga tahun. Meski terasa melelahkan proses tersebut dilalui dia dengan gembira.

“Setelah mengenal Islam persepsi saya tentang diri saya dan dunia berubah secara dramatis.  Beberapa keyakinan awal hancur begitu saja.  Kadang-kadang saya takut saya akan kehilangan diri  di lain waktu saya tahu bahwa jalan ini adalah takdir saya dan menerimanya,” ujar dia. 

 Sebelum mengenal Islam, Karima merasa hatinya merasa kosong dan butuh spiritual. Namun, saat itu tak ada keyakinan yang bisa diterimanya.

Dia hanya percaya seseorang hidup dengan prinsip humanis sekuler tanpa dikaitkan dengan spiritual dan nilai ketuhanan. Karima tinggal di negara minoritas Islam sehingga dia tidak mengenal agama lain selain agama mayoritas di negara tersebut.     

“Dengan merasakan kehampaan spiritual saya, saya memulai pencarian spiritual dan mempelajari berbagai agama secara mendalam. Namun, saya terlalu nyaman dengan hidup saya untuk itu,” jelas dia.

Beruntung dia memiliki keluarga yang penuh kasih sayang dan selalu mendukung pilihan hidupnya. Begitu juga dengan teman-teman dekatnya yang berada di lingkungan positif sehingga Karima bisa menyelesaikan pendidikannya hingga universitas. 

Allah memilih hambanya yang diberikan hidayah. Perkenalan Islam merupakan takdir Allah.

 Dia bertemu dengan teman Muslim yang memotivasinya mempelajari Islam. Pria itu bernama Sharif. 

Dia adalah seorang lelaki tua yang bekerja di program tutorial. Dia menjelaskan sementara pekerjaannya hanya menghasilkan sedikit imbalan uang, kesenangan yang dia peroleh dari mengajar siswa memberi dia semua imbalan yang dia butuhkan. Dia berbicara dengan lembut dan tulus.  

“Saya harap memiliki kedamaian jiwa ketika saya mencapai usianya. Itu terjadi pada 1987,”ujar dia.

Ketika Karima bertemu lebih banyak Muslim, dia tidak hanya terpesona oleh kedamaian batin mereka, tetapi oleh kekuatan iman mereka. Jiwa lembut ini kontras dengan citra kekerasan dan seksis yang dipikirkannya tentang Islam. 

Kemudian Karima bertemu dengan Imran, seorang teman Muslim yang dia sadari adalah tipe pria yang ingin dia nikahi. Dia cerdas, tulus, mandiri, dan damai dengan dirinya sendiri. 

Ketika mereka berdua sepakat ada peluang untuk menikah, Karima mulai serius mempelajari Islam. Awalnya, dia tidak berniat menjadi Muslim. Karima hanya ingin memahami agama pasangannya karena dia telah menjelaskan dia ingin membesarkan anak-anaknya sebagai Muslim.  

Dalam benak Karima jika mereka menjadi tulus, damai dan baik seperti dia, maka tidak masalah dengan itu. Tapi Karima merasa berkewajiban untuk memahami Islam lebih baik dulu.  

“Saya menyadari saya tertarik pada jiwa-jiwa yang damai ini karena saya merasakan kurangnya kedamaian dan keyakinan batin saya sendiri. Ada kekosongan batin yang tidak sepenuhnya puas dengan keberhasilan akademis atau hubungan antarmanusia,” ujar dia.[]sumber:republika