Senin, Juni 24, 2024

Dosen UBBG Lulus Seleksi...

BANDA ACEH - Tidak hanya mahasiswa, dosen UBBG juga berprestasi. Adakah Dr. Zahraini,...

34 Tim Futsal Berlaga...

SIGLI – Sebanyak 34 tim se-Aceh berlaga untuk memperebutkan gelar juara Piala Ketua...

All New Honda BeAT...

BANDA ACEH - Sehubungan dengan peluncuran All New Honda BeAT series terbaru oleh...

Kapolri Luncurkan Digitalisasi Perizinan...

JAKARTA - Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo meluncurkan sistem online single...
BerandaBerita Banda AcehKisah Nurzahidah Jualan...

Kisah Nurzahidah Jualan Donat, dari Kesulitan Cari Kerja Kini Ciptakan Lapangan Pekerjaan

LABU-LABU yang ranum memenuhi dua keranjang besar pada salah satu toko di Jalan Cendrawasih, Gampong Keuramat, Kota Banda Aceh. Sesaat kemudian, pemilik toko, Nurzahidah, muncul dengan setelan gamis hitam dan kerudung warna senada. “Ini stok labu untuk kita olah jadi donat,” ujarnya ramah, Sabtu, 17 Juni 2023.

Di tangan Nurzahidah, labu-labu yang ranum nan gemuk itu diolah sehingga menjelma menjadi donat bernilai ekonomi tinggi. Selain labu, dia juga menjadikan ketela sebagai bahan baku kudapan yang dijualnya. Perpaduan kedua bahan baku inilah yang melahirkan jenama Latela.

Hampir satu dekade lamanya Nurzahidah berdikari sebagai pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Dalam perjalanannya, usaha yang ia rintis sejak 2014 itu—semula dilakoni seorang diri—kini telah mempekerjakan enam karyawan bertugas di bidang produksi dan penjualan. Kerja keras Nurzahida berbuah manis. Ia telah berkontribusi dalam menopang ekonomi Aceh dengan menciptakan lapangan pekerjaan.

“Saya sendiri sebetulnya memulai usaha ini karena memang susah mencari pekerjaan di Aceh,” ujar Nurzahidah.

Sebagai seorang sarjana pertanian lulusan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Nurzahidah sempat berangan-angan dirinya tak kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Ia punya keahlian, khususnya berkaitan dengan teknologi hasil pertanian. Ia juga punya ijazah dari perguruan tinggi ternama di Aceh. Namun, terbatasnya lapangan pekerjaan di Aceh ternyata membuat harapannya untuk bekerja secara profesional sirna begitu saja. Tak kehilangan akal, ia pun memutuskan untuk merintis usaha sendiri.

“Ketika itu saya melihat kalau labu dan ketela ini bahan baku pangan lokal yang sangat melimpah di Aceh. Harga bahan bakunya lumayan murah di pasaran sehingga terpikir oleh saya, mengapa tidak mengolah ini saja menjadi sesuatu yang bisa dijual.”

Apa yang pernah dialami Nurzahidah menjadi kendala umum terjadi di Aceh karena sempitnya lapangan pekerjaan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, per Agustus 2022, terdapat sebanyak 4.019.977 jiwa penduduk Aceh yang berusia kerja. Angka ini naik sebesar 69 ribu jiwa dari tahun sebelumnya. Sementara itu, dari total lima juta lebih rakyat Aceh, sebesar 14,75 persen tercatat sebagai penduduk miskin dengan angka 818,47 ribu orang. Penduduk miskin utamanya terjadi di perdesaan yang mencapai angka 17,06 persen, sedangkan di perkotaan berkisar 10,35 persen.

Jika melihat data BPS, ketersediaan lapangan pekerjaan terbesar di Aceh berada di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang berkontribusi hingga 40,50 persen. Diikuti sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 13,37 persen. Sementara sektor lainnya yang hanya ada 15 sektor berkontribusi masing-masing tak lebih dari 10 persen. Minimnya serapan tersebut bisa dipengaruhi karena berbagai hal, di antaranya memerlukan keterampilan dan tingkat pendidikan tertentu.

Dalam hal inilah, kata Nurzahidah, para pelaku UMKM di Aceh telah mengisi “ruang-ruang” kosong tersebut sehingga di masa-masa sulit seperti saat pandemi Covid-19 kemarin, ekonomi Aceh tetap bernapas di tengah terhentinya sektor-sektor lapangan usaha berskala besar. UMKM di Aceh cenderung dapat bertahan di masa-masa sulit itu karena umumnya banyak yang bergerak di sektor makanan atau kuliner.

“Seperti kita tahu, dalam kondisi sulit apa pun kita kan tetap butuh makan. Ini yang membuat UMKM ini bisa bertahan. Di sisi lain, biaya yang kita keluarkan untuk menggerakkan UMKM, gaji karyawan misalnya, tentu tidak sebesar karyawan-karyawan swasta lainnya,” kata Nurzahidah yang baru-baru ini sudah memegang sertifikat dari BNSP sebagai pendamping UMKM.

[Nurzahidah (tengah) bersama dua karyawannya sedang memproduksi donat. Rekrutmen tenaga kerja di sektor UMKM yang berbasis pada keahlian memberikan peluang lebih besar untuk menyerap tenaga kerja. Foto: Aprijal Rachmad]

***

Menjalankan UMKM tentu lebih mudah dibandingkan membuka usaha di sektor lain karena membutuhkan modal atau investasi yang minimalis, keterampilan yang bisa dipelajari secara autodidak, dan proses perizinan atau legalitas bisa dilakukan berbarengan dengan menjalankan usaha. Tidak harus dipersiapkan di awal. Namun, bukan berarti tidak ada kendala sama sekali. Utamanya kata Nurzahidah, kendala yang dialami pelaku UMKM ialah dalam mengakses permodalan ke lembaga keuangan.

Mereka juga tak jarang sulit berkembang karena tidak ada inovasi produk atau kesulitan dalam melakukan promosi dan pemasaran. Di sisi lain, persaingan di dunia usaha memaksa pelaku UMKM untuk mengutamakan kualitas produk mereka. Misalnya, memiliki sertifikasi halal dan BPOM, izin PIRT dari Dinas Kesehatan, nomor induk berusaha, hingga merek. Saat ini kata Nurzahidah, pemerintah sudah memfasilitasi perizinan dan legalitas usaha secara gratis sehingga bisa dimanfaatkan dengan baik oleh pelaku UMKM.

Pemerintah Aceh khususnya juga memiliki UPTD PLUT KUKM yang dapat dikunjungi pelaku UMKM guna mendapatkan konsultasi gratis untuk tujuh spesialisasi bidang, yaitu: (1) kelembagaan, (2) sumber daya manusia, (3) produksi, (4) pembiayaan, (5) pemasaran, (6) pengembangan informasi dan teknologi, dan (7) pengembangan jaringan kerja sama.

Kendala-kendala itu, kata Nurzahidah, bisa diatasi dengan banyak cara. Misalnya, jangan malas berjejaring karena dari jejaring itulah bisa mendapatkan banyak informasi. Kedua, fokus membenahi catatan keuangan untuk mempermudah akses ke lembaga pembiayaan. Ketiga, melakukan promosi baik daring maupun luring untuk terus “mengingatkan” konsumen tentang produk tersebut. Keempat, jika perlu mencari mentor maka jangan sungkan untuk berkonsultasi pada orang-orang yang sudah lebih dulu terjun ke UMKM.

Soal manfaat dari berjejaring ini diakui Dika, salah satu pelaku UMKM di Banda Aceh yang selama ini banyak bertukar informasi dengan Nurzahidah. Dika memulai usaha kuliner yang menjual cake atau kue sejak 2015. Di awal-awal membangun usaha Dika sering mengalami defisit keuangan karena ketidaktelatenannya dalam mencatat.

“Untung ada, tapi kok saya rugi terus, uangnya tidak ada tersisa. Setelah saya konsultasi ke Kak Ida (Nurzahidah), dan setelah saya evaluasi, ternyata selama ini saya tidak memisahkan antara uang usaha dengan uang pribadi,” kata Dika.

Dika juga bisa belajar tentang manajemen karyawan, strategi penjualan, hingga pemasaran produk. “Baru-baru ini merek usaha saya, Jukeki, juga sudah terdaftar di Kemenkumham berkat adanya informasi dari Kak Ida,” katanya.

Pengamat sekaligus pembina UKM yang juga dosen Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Dr. Iskandarsyah Madjid, menegaskan pemerintah perlu terus memfasilitasi para pelaku UMKM di Aceh karena mereka merupakan salah satu penopang ekonomi Aceh. Pemerintah perlu menciptakan ekosistem yang terintegrasi antara pengembangan sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun infrastruktur yang berbasis pada kebijakan. Intervensi pada hal-hal tertentu juga dibutuhkan agar UMKM bisa bergerak dengan leluasa, misalnya, mengurangi pajak, mempermudah perizinan, atau membangun rumah kemasan dengan tidak merusak pasar yang sudah ada.

***

Nurzahidah menyibak tirai warna ungu yang memisahkan ruang display produk dengan ruang produksi di tokonya. Di sana terlihat beberapa karyawan sedang melakukan produksi donat. Ada yang sedang mengadon dan ada yang membuat toping. Mereka yang direkrut Nurzahidah awalnya tanpa keahlian sama sekali, tetapi setelah dilatih kini akhirnya mereka menjadi sangat terampil dan bisa diandalkan. Gaji mereka pun disesuaikan berdasarkan etos kerja masing-masing, selain juga karena lamanya masa kerja.

Nurzahida tersenyum. Ia pernah khawatir karena pernah “gagal” bekerja di tempat orang lain. Namun, kegagalan itu justru membawanya pada peluang yang lebih besar.[](Irma Hafni)

Baca juga: