LHOKSEUMAWE — Pemerintah telah menetapkan Cut Meutia sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964. Sejak itu tidak banyak yang tahu keberadaan makam pahlawan yang syahid pada 24 Oktober 1910 tersebut, kecuali kerabat dekat dan keturunannya.

Baru-baru ini Komandan Korem 011 Lilawangsa Kolonel Inf. Agus Firman Yusmono, Dandim 0103 Aceh Utara Letkol Kav Fadjar Wahyudi Broto dan Kapolres Aceh Utara Untung Sangaji melakukan tapak tilas ke lokasi makam yang berada di hulu Krueng Keureuto di kawasan perbukitan Gunong Geureudong, Kecamatan Matang Kuli, Aceh Utara. Kegiatan tersebut untuk memperingati Hari Pahlawan Nasional setiap 10 November.

Jalur yang dilalui sangat ekstrem, hanya jalan setapak dipenuhi semak belukar di antara belantara, menanjak melewati banyak alur kecil dan sungai. Tim harus beberapa kali istirahat sebelum mencapai titik tujuan pusara pahlawan wanita itu. Walaupun sudah direhab pemerintah beberapa tahun lalu, kompleks makam itu terkesan masih kurang terawat. Persoalannya masih klasik, yaitu belum ada jalan menuju ke lokasi pedalaman itu.

Sebelumnya ada beberapa kelompok masyarakat dan pencinta alam berhasil sampai ke lokasi makam. Namun, kapan tapak tilas makam Cut Meutia pertama kali dilakukan?

Berdasarkan informasi diperoleh portalsatu.com/, penelusuran keberadaan makam itu ternyata pertama kali dilakukan pada 1988.

Ketika itu tim berjumlah 100 orang lebih dari berbagai organisasi kepemudaan, Pramuka, dan unsur TNI dari Kodim dilepas Bupati Aceh Utara saat itu, Ramli Ridwan, dari pendopo bupati di awal November. Mereka berjalan kaki menuju tugu Tgk. Di Cot Plieng, Syamtalira Bayu, Aceh Utara. Sehari kemudian berlanjut ke rumah Cut Meutia di Meunasah Pirak, Kecamatan Matangkuli.

“Inisiator tapak tilas pertama kali oleh TNI dari Kodim saat itu. Kami dilepas bupati dari pendopo menuju ke tugu Cot Plieng. Seingat saya, ada seratusan lebih pesertanya, sebagian besar anggota Pramuka DKC Aceh Utara. Namun, yang berhasil mencapai ke lokasi makam hanya 20-an orang, termasuk saya dan Pak Darmawan,” kata Yafitzam kepada portalsatu.com/, Jumat, 10 November 2017.

Yafitzam dan Darmawan saat ini masih aktif di kelembagaan Pramuka Dewan Kerja Cabang (DKC) Aceh Utara dan PMI Aceh Utara.

“Kami menginap satu malam di Rumah Cut Meutia. Esok paginya kami gelar upacara peringatan Hari Pahlawan tepat 10 November. Setelah itu kami berangkat ke lokasi makam kurang lebih 20 orang, yang lainnya langsung kembali ke Lhokseumawe,” kata Darmawan.

Yafitzam mengisahkan, saat itu tim tidak menggunakan jalur dari Pirak. Pasalnya, saat itu belum ada jalurnya dan masih hutan belantara. Memakai jasa salah seorang keturunan pahlawan itu sebagai penunjuk jalan, tim berangkat dari Alue Semambu, Cot Girek menempuh jalur menanjak dan berliku yang dibuka oleh PT Aceh Prima Plywood Indonesia (APPI), perusahaan yang pertama kali mengolah kayu hutan di Gunong Geuredong.

Yafitzam dan rekan-rekan melintasi beberapa desa, antara lain Cot Girek Lama, Bukit Payung, Leuboh Tilam, sempat kehabisan air minum dan terpaksa meminum air sungai. Usai perjalanan melelahkan selama dua hari dua malam, akhirnya tim tiba di makam. Uniknya, saat itu, makam terlihat berada di tengah-tengah Krueng Keureuto (Sungai Keureuto).

“Seperti ada pulau di tengah sungai, di situlah letak makam Cut Meutia. Kondisinya penuh semak belukar. Tidak ada bangunan apa pun, hanya batu nisan sebagai tanda. Ada makam lainnya juga di situ,” terang Yafitzam diaminkan Darmawan.

Mantan anggota DPRK Aceh Utara periode 2004-2009 itu merasakan kenangan luar biasa selama tapak tilas tersebut. Ia merasa bangga dan terharu karena bisa mencapai lokasi itu setelah perjuangan perjalanan melelahkan berhari-hari.

“Namun sayangnya, sampai saat ini belum ada jalan yang bisa dilalui ke makam (Cut Meutia). Miris dan sedih rasanya, sudah 29 tahun lalu sejak tapak tilas pertama kami, sampai saat ini juga belum ada jalan. Harapan saya dengan momen Hari Pahlawan ini, pemerintah terketuk hatinya untuk membangun fasilitas jalan yang mumpuni agar makam bisa diakses dengan mudah,” kata Yafitzam.[] (*sar)