SUBULUSSALAM – Kisruh terkait pembentukan fraksi DPRK Subulussalam tampaknya mulai memanas setelah satu bulan lebih mereka dilantik sejak 19 Agustus  2019 lalu, hingga kini alat kelengkapan dewan belum terbentuk.

Kisruh ini muncul kepermukaan  saat sejumlah anggota dewan ingin menggelar rapat tindaklanjut pembentukan fraksi usai penutupan Orientasi Anggota DPRK Subulussalam periode 2019-2024 di Hotel Kyriad Muraya Aceh di Banda Aceh, Kamis, 26 September 2019.

Berdasarkan data dihimpun portalsatu.com dari salah seorang anggota dewan, Bahagia Maha, menyebutkan rapat itu dihadiri 12 anggota terdiri dari PA dua orang, PAN tiga orang, Golkar tiga orang, Gerinda satu orang, PNA dua orang dan satu lagi Zainuddin dari Demokrat. Sementara 7 wakil rakyat lainnya keluar sebelum acara berlangsung.

Ketujuh anggota dewan itu yakni 4 orang dari Partai Hanura, termasuk Ketua sementara DPRK Subulussalam, Ade Fadly Pranata Bintang, tiga dewan lainnya masing-masing dari PKS, PKPI dan Dolly Cibro dari Demokrat. Sementara utusan wakil rakyat dari PBB dilaporkan tidak hadir sejak kemarin.

Rapat akhirnya dipimpin Wakil Ketua sementara DPRK Subulussalam, Dewita Karya, mengklaim telah menyepakati tiga fraksi yakni satu fraksi utuh, Hanura memiliki 4 kursi dari jumlah 20 anggota DPRK Subulussalam. Dua fraksi gabungan, pertama koalisi Golkar dan PNA memiliki lima kursi disebut Fraksi Karya Nanggroe.

Fraksi kedua, koalisi Gerinda, Partai Aceh dan PAN disebut Fraksi Gerakan Aceh Amanat (Granat). Sedangkan Demokrat, PBB, PKS dan PKPI belum menentukan sikap, mereka memilih keluar dan tidak mengikuti rapat tersebut. Mereka sebelumnya dilaporkan juga sudah membentuk satu fraksi yakni Fraksi Sada Kata.

“Secara hukum aturan rapat di tempat lain tidak menyalahi aturan, asalkan anggota dewan cukup, sekwan ada, kabag hukum dan risalah ada itu bisa berjalan, setelah kami sepakati diundang via grup WhatsApp seperti di Subulussalam sana, kami gelar rapat di sini,” kata Bahagia Maha dari Fraksi Granat.

Bahagia Maha dan Ketua Fraksi Karya Nanggroe, Samiun menyayangkan sikap Ketua sementara DPRK Subulussalam, Ade Fadly Pranata Bintang yang memilih walk out dari ruangan rapat. Menurut Bahagia, Hanura yang sudah pasti memiliki fraksi utuh, seharusnya menunjukan sikap netral tanpa memihak kepada salah satu fraksi.

“Tetapi dengan sikap Hanura seperti itu terkesan ada keberpihakan. Kalau begitu Hanura sudah hampir bisa dibilang membangun tembok (blok) di DPRK itu,” ungkap Bahagia Maha.[]