BANDA ACEH – Penabalan “Duta Kopi” terhadap Nurul Akmal beberapa waktu lalu dalam tulisan “Nurul Akmal, Duta Kopi Gayo Aceh untuk Eropa” yang dimuat portalsatu.com pada 28 Maret 2017 menimbulkan polemik. Tidak sedikit masyarakat asal dataran tinggi Gayo memprotes gelar tersebut.
Mengenai hal ini, Nurul Akmal meluruskan lakap Duta Kopi tersebut agar tidak menimbulkan multi tafsir. Melalui surat resminya yang ditujukan kepada portalsatu.com, Minggu, 4 Juni 2017, Nurul menjelaskan bagaimana peran dan kronologis gelar duta kopi yang disandangnya tersebut.
Berikut isi lengkap surat klarifikasi Nurul Akmal terkait Duta Kopi:
“Kepada seluruh pembaca Portal satu, saya menyatakan bahwa apa yang selama ini marak menimbulkan kesalah pahaman mengenai berita yang berjudul ;
“Nurul Akmal, Duta Kopi Gayo Aceh untuk Eropa, 28 Maret 2017”.
Berikut klarifikasi dari saya:
Saya sebagai nara sumber berita yang diwawancarai langsung oleh Thayeb Loh Angen pada 27 Maret 2017 di Banda Aceh, mengatakan bahwa:
Mengenai Duta kopi Arabika Gayo Aceh, bukanlah seperti yang terjadi dalam ajang kontes yang diikuti oleh peserta dengan berbagai kriteria dan ditentukan oleh juri, dan resmi dinobatkan oleh lembaga yang menyelenggarakannya. Duta kopi yang terjadi pada saya adalah diberikan tugas oleh kedutaan, dalam hal ini duta besar saat saya memperkenalkan kopi Arabika Gayo di luar negeri.
Hal ini sudah saya jelaskan kepada masyarakat Gayo pada hari Jumat, 2 Juni 2017 di Takengon, pada saat silaturrahmi yang difasilitasi oleh MPKG.
Terkait dengan tulisan Kopi Gayo Aceh atau Kopi Arabika Gayo Aceh, ini memang kealpaan saya, kekhilafan saya seharusnya Kopi Arabika Gayo.
Dengan tulisan ini saya harap Bapak Thayeb Loh Angen dapat memuat kembali berita saya ini sebagai bahan perbaikan.
Kepada semua pembaca portalsatu.com, masyarakat Gayo, masyarakat Aceh, Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kekeliruan ini.
Demikian yang dapat saya sampaikan, akhirnya kepada Allah saya berserah diri dan mohon ampunan…
Atas kerjasamanya diucapkan terima kasih.
Banda Aceh, 3 Juni 2017
Nurul Akmal, SE. MM.[]





