BANDA ACEH – Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Kamis, 5 Maret 2020. Komisi membidangi kesehatan itu ingin melihat persiapan RSUDZA sebagai rumah sakit rujukan untuk penanganan kasus virus corona (Covid 19).

Kunjungan itu dipimpin Ketua Komisi V DPRA, M. Rizal Falevi Kirani, wakil ketua, dan anggota. Rombong Komisi V DPRA disambut Direktur RSUDZA, Dr. dr. Azharuddin, Sp.OT-K. Spine FICS., dan sejumlah pejabat menajemen rumah sakit di Ruang Komite Medik.

Dalam kunjungan tersebut, Komisi V DPRA mempertanyakan tindak lanjut terkait persiapan rumah sakit pemerintah sebagai rujukan bila ada masyarakat terkena virus corona, baik itu dari segi kesiapan tim medis, alat dan fasilitas medis sampai proses fardhu kifayah bila ada korban meninggal.

“Apa yang sudah dijelaskan tadi juga melalui simulasi berarti ada peningkatan, dan mudah-mudah kita lihat kedepannya agar baik seperti itu,” ujar Rizal Falevi Kirani kepada awak media usai memimpin pertemuan dengan manajemen RSUDZA.

Falevi Kirani mendukung langkah-langkah dilakukan RSUDZA dalam menyiapkan kebutuhan baik menambah tim dokter spesialis, ruang isolasi, kamar mayat, serta alat medis untuk penanganan jika ada pasien Covid-19

“Kita sangat mendukung dan mengapresiasi apa yang direncanakan oleh Rumah Sakit Umum Daerah Zainoe Abidin ke depan, bahwa ada sebuah perencanaan yang komprehensif terhadap (penanganan) wabah yang mematikan ini. Karena kita harus tahu bersama bahwa jangan setiap kali (muncul) wabah kita sibuk dengan wabah itu, tetapi tidak ada perencanaan dari awal,” jelasnya.

(M. Rizal Falevi Kirani. Foto: Razi)

Oleh karena itu, Falevi Kirani meminta pihak rumah sakit terus mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukan saat melakukan penanganan medis untuk Covid-19. “Makanya kita sepakat bahwa dari awal memang harus ada design dan kita beri masukan kepada rumah sakit kemarin waktu pertama kali muncul virus Corona, dan Alhamdulillah ditindaklanjuti,” pungkas Falevi Kirani.

Dalam kunjungan tersebut, Komisi V DPRA didampingi manajemen dan staf RSUDZA juga mengecek ruang isolasi yang diperuntukkan untuk pasien terkena Covid-19 di gedung lama rumah sakit pelat merah itu.

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Aceh menyiapkan Rumah Sakit Zainoel Abidin di Banda Aceh dan Rumah Sakit Cut Mutia di Aceh Utara sebagai rumah sakit rujukan untuk penanganan kasus virus corona. 

Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr. Hanif, mengatakan, dua rumah sakit itu dipersiapkan Pemerintah Aceh atas arahan dari Kementerian Kesehatan RI. Kedua rumah sakit itu menjadi rumah sakit rujukan bahkan sejak heboh menyebarnya virus flu burung beberapa tahun lalu. “Kalau ada yang terindikasi setelah di screening (skrining) kita tunjuk untuk penanganan di dua rumah sakit ini. SOP penanganan juga telah ada di sana,” kata Hanif, Senin, 27 Jnauari 2020.

Hasil investigasi Ombudsman RI Aceh dan klarifikasi ke Dinas Kesehatan Aceh, menurut Taqwaddin, Pemerintah Aceh cukup siap menghadapi virus corona. 

Pemerintah Aceh sudah menyiapkan dua rumah sakit untuk menangani potensi jika ada pasien yang terpapar virus tersebut, yaitu di RSUZA Banda Aceh dan RSUCM Aceh Utara di Lhokseumawe. “Di dua RS tersebut sudah dilatih dan disimulasikan paramedis dan petugas yang akan menanganinya. Sudah pula disiapkan infrastruktur dan peralatannya,” tutur Kepala Ombudsman RI Perwakilan Aceh, Dr. Taqwaddin, Selasa, 3 Maret 2020. 

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Aceh, diakui memang bahwa peralatan khusus yang canggih untuk menangani ini masih kurang, tetapi Plt. Gubernur sudah menyetujui anggaran untuk pengadaan peralatan dimaksud. 

“Adanya komitmen dari Kepala Dinas Kesehatan Aceh yang merupakan OPD paling relevan terkait masalah ini, kami pikir cukup tepat. Apalagi komitmen ini akan segera ditindaklanjuti dalam bentuk sosialisasi dan edukasi masyarakat yang ditugaskan pada seluruh Puskesmas se-Aceh,” ujar Taqwaddin. (BacaBegini Tanggapan Ombudsman Aceh Soal  Virus  Corona dan Kelangkaan Masker)[](Razi)